
Kamis, 31 Juli 2025 – Dolar AS bergerak menuju kenaikan bulanan pertama tahun ini, didukung keyakinan investor terhadap ketahanan ekonomi Amerika Serikat dan meredanya kekhawatiran perang dagang. Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) memicu gejolak pasar setelah memberikan sinyal kebijakan yang lebih optimis, menyeret yen dalam fluktuasi tajam.
Dalam rapat kebijakan dua hari, BOJ mempertahankan suku bunga jangka pendek di 0,5%, namun menaikkan proyeksi inflasi hingga tahun fiskal 2027 dan menilai risiko terhadap prospek harga kini “lebih seimbang”. Langkah ini sempat memicu penguatan yen karena meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga di akhir tahun, sebelum akhirnya yen berbalik dan diperdagangkan mendekati posisi awal.
Di sisi lain, dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dua bulan setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan belum ada urgensi untuk memangkas suku bunga. Sikap hawkish The Fed, ditambah dengan ketahanan ekonomi AS, mendorong dolar menuju kenaikan bulanan sekitar 3%—yang menjadi penguatan pertama di tahun ini.
Mata uang Eropa menjadi korban utama kekuatan dolar. Euro sempat menyentuh level terendah tujuh minggu sebelum pulih 0,3% menjadi $1,1435, namun tetap melemah hampir 3% sepanjang bulan Juli.
Dari Jepang, Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengungkapkan bahwa kenaikan biaya pangan berpotensi memicu persepsi inflasi publik dan mempercepat inflasi inti. “Meskipun inflasi inti belum mencapai target 2%, tren kenaikan moderat mulai terlihat,” ujarnya—dianggap analis sebagai sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga mendatang.
Pada perdagangan terakhir, yen melemah, mendorong dolar naik 0,7% ke 150,52, setelah sempat bergerak dalam rentang fluktuatif sepanjang sesi.
Sementara itu, ketidakpastian global semakin dipicu oleh kebijakan tarif Presiden Donald Trump, termasuk tarif baru 15% terhadap Korea Selatan dan 50% terhadap sebagian besar barang Brasil. Trump juga menyebut masih ada negosiasi yang berlangsung dengan India. Menjelang batas waktu 1 Agustus, pasar menghadapi gelombang pengumuman tarif baru yang dapat mengguncang dinamika perdagangan internasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar