Kamis, 30 Mei 2024

Ekonomi AS Diprediksi Mendingin, Dolar Turun ke Rp 16.245

Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah hasil pertumbuhan ekonomi AS tercatat lebih rendah dibandingkan ekspektasi pelaku pasar.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06% di angka Rp16.245/US$ pada hari ini, Jumat (31/5/2024). Penguatan rupiah ini memutuskan tren pelemahan rupiah yang terjadi empat hari beruntun.

Kendati secara harian rupiah menguat, namun secara mingguan rupiah anjlok 1,59%.

Sementara DXY pada pukul 14:52 WIB naik ke angka 104,86 atau naik 0,14%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan penutupan kemarin yang berada di angka 104,71.

 

 
 

Apresiasi rupiah terjadi setelah data proyeksi kedua pertumbuhan ekonomi AS tumbuh di bawah dari ekspektasi pelaku pasar.

Departemen Perdagangan melaporkan PDB riil AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 1,3% pada kuartal pertama, turun dari perkiraan awal sebesar 1,6% tetapi sedikit lebih buruk dibandingkan perkiraan Dow Jones sebesar 1,2%.

Selain itu, data klaim pengangguran mingguan AS untuk periode pekan yang berakhir 25 Mei 2024 terpantau meningkat yakni menjadi 219.000, dari sebelumnya pada April lalu sebanyak 216.000 klaim.

Kedua hal tersebut berdampak kepada penurunan DXY sehingga tekanan terhadap rupiah menjadi semakin minim.

Di lain sisi, pelaku pasar juga masih bersikap wait and see perihal data inflasi PCE AS malam hari ini.

PCE menjadi ukuran inflasi favorit bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan investor akan mencermatinya untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter The Fed.

Pasar memperkirakan inflasi PCE AS secara tahunan melandai menjadi 2,6%, sedangkan secara bulanan juga cenderung turun menjadi 0,2%. Adapun PCE inti diperkirakan juga turun menjadi di 0,2%.

Jika inflasi PCE benar-benar melandai atau sesuai ekspektasi pasar, maka ada kemungkinan The Fed dapat mengubah sikapnya, meski mereka masih melihat data inflasi utama berikutnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

 


 

 

Polemik Pemotongan Gaji Untuk Tapera, Yakin Atasi Backlog Rumah?

 Pemerintah membuat kebijakan terkait tabungan perumahan rakyat (Tapera) yang wajib diikuti oleh pekerja swasta dan mandiri. Kebijakan tersebut disebut bertujuan untuk mengatasi backlog rumah.

Selengkapnya saksikan dialog Safrina Nasution bersama Direktur PT Ciputra Development Tbk Harun Hajadi dan Equity Analyst CNBC Indonesia M. Reza Ilham Taufani dalam Program Closing Bell CNBC Indonesia, Jumat (31/05/2024).

 

CNBC.COM

Rabu, 29 Mei 2024

Bisnis AI Raksasa Software AS Ini Kian Kinclong, RI Jadi Pasar Besar

Bisnis perusahaan perangkat lunak (software) multinasional asal Amerika Serikat (AS) Infor semakin kinclong seiring meningkatnya tren otomatisasi dan penggunaan artificial intelligent (AI).

Hingga awal tahun 2024, pendapatan perseroan telah menembus angka US$3,4 miliar atau setara Rp54,71 triliun. Infor juga memiliki 15 ribu konsumen cloud di 40 negara, termasuk Indonesia.

"Perangkat lunak perusahaan memberikan keuntungan yang kompetitif. Proses akan jadi lebih efisien, kita bisa memiliki gambaran dan data yang real time, meningkatkan hubungan yang baik dengan stakeholder dan manajemen, serta meningkatkan skala dan fleksibilitas bisnis menjadi lebih baik. Tak heran banyak perusahaan yang mulai mengarah ke sana," ujar Wolfgang Kobek, EVP and General Manager Europe, Middle East and APJ Infor, Kamis (30/5/2024).

Di Indonesia sendiri, mulai banyak pengusaha yang mengaplikasikan penggunaan AI dalam bisnisnya. salah satu yang menurutnya menjadi klien Infor adalah sebuah perusahaan peternakan yang memiliki skala cukup besar.

"Ada klien kami di Indonesia, mereka perusahaan peternakan cukup besar, walaupun mereka sendiri sempat bingung apa yang ingin mereka lakukan dengan AI dan otomatisasi, terkadang banyak yang cuma ikut tren. Namun kami melihat trennya memang terus meningkat," ujar Terry Smagh, Senior Vice President and General Manager of Asia Pacific and Japan, Infor.

Selain peternakan, beberapa klien yang menggunakan jasanya mulai dari perusahaan otomotif, food and beverages, financial services hingga logistics service provider. Ke depan, diprediksi semakin banyak industri yang memanfaatkan ini, meskipun secara cost juga tidak murah.

"Kalau kita berpikir tentang teknologi dan otomatisasi yang kuncinya bisa meningkatkan bisnis, tentu kita tidak bisa berbicara soal murah, menurut saya itu persepsi yang kurang tepat. Jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh, cost besar yang dikeluarkan di awal tentu akan terbayar berkali-kali lipat," jelas Terry.

Menurutnya, seiring dengan pemahaman yang semakin baik akan teknologi dan kegunaannya, pengguna software ERP, AI dan otomatisasi di Indonesia akan semakin besar, dan setiap tahun angkanya terus bertumbuh.

Infor sendiri menyadari hal itu, dan terus mengembangkan bisnisnya ke berbagai negara, serta melihat Indonesia merupakan salah satu pasar potensial yang besar ke depan.

 

CNBC.COM

 

Wall Street Dibuka Lesu Lagi, Dow Jones Lagi-Lagi Paling Parah

 Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kembali dibuka di zona merah pada perdagangan Kamis (30/5/2024), meski investor menimbang data perekonomian AS yang cenderung melambat berdasarkan pembacaan perkiraan kedua.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka merosot 0,89% ke posisi 38.098,93, S&P 500 melemah 0,26% ke 5.253,13, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,24% menjadi 16.879,97.

 

Wall Street kembali melemah meski imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) mulai melandai, setelah dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan.

Yield Treasury acuan tenor 10 tahun turun 5 basis poin (bp) menjadi 4,572%, turun dari posisi tertingginya sejak awal Mei 2024.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%. Ketika yield turun, maka tandanya investor sedang memburu obligasi.

Investor masih menanti rilis data ekonomi penting yang akan dirilis menjelang akhir pekan ini, dengan data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE) terbaru akan dirilis pada Jumat besok.

PCE menjadi ukuran inflasi favorit bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan investor akan mencermatinya untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter The Fed kedepan, terutama mengenai kapan penurunan suku bunga akan dimulai.

 

Di lain sisi, investor cenderung menimbang dari data perekonomian AS pada kuartal I-2024, di mana pada pembacaan perkiraan kedua lebih rendah dari perkiraan awal. Meski ada penurunan di perkiraan kedua, tetapi hal ini juga merupakan indikator utama inflasi.

Produk domestik bruto (PDB) riil AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 1,3% pada kuartal pertama, turun dari perkiraan awal sebesar 1,6% tetapi sedikit lebih buruk dibandingkan perkiraan Dow Jones sebesar 1,2%.

Pengurangan konsumsi, dari pertumbuhan 2,5% menjadi 2%, merupakan penyebab utama revisi penurunan tersebut.

Mengenai inflasi, indeks harga tertimbang rantai, yang memperhitungkan penyesuaian perilaku konsumen, naik 3% pada periode tersebut, 0,1 poin persentase lebih rendah dari perkiraan pertama. Ekonom telah memperkirakan 3,1%.

Selain itu, data klaim pengangguran mingguan AS untuk periode pekan yang berakhir 25 Mei 2024 terpantau meningkat yakni menjadi 219.000, dari sebelumnya pada April lalu sebanyak 216.000 klaim.

Di satu sisi ada beberapa indikator ekonomi AS masih cukup kuat, tetapi dari indikator lainnya justru mendingin, terutama sektor tenaga kerja.

Beragamnya data ekonomi AS membuat pasar bimbang, apalagi terkait dengan kapan berakhirnya era suku bunga tinggi. Para pejabat The Fed juga sempat bimbang akan bervariasinya data ekonomi AS.

Namun, selama inflasi masih membandel, The Fed masih belum akan memangkas suku bunga acuannya, sehingga data inflasi menjadi perhatian utama dibandingkan data lainnya.

Dari kabar korporasi AS, saham Saleforce anjlok lebih dari 18%, setelah data pendapatan pada kuartal I-2024 meleset dari perkiraan pasar sebelumnya. Prospek pendapatan dan pendapatan perusahaan untuk kuartal kedua juga jauh dari perkiraan Street.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

Selasa, 28 Mei 2024

Emas Bergerak Lebih Tinggi pada Tengah Hari seiring Melemahnya Dolar

 

Emas diperdagangkan lebih tinggi pada sore hari Selasa seiring pelemahan dolar.

Emas untuk pengiriman Agustus terakhir terlihat naik US$24,90 menjadi US$$2,381.80 per ons dengan logam tersebut terlihat akan terdorong kembali ke atas US$2,400 setelah jatuh pada minggu lalu setelah rekor tertinggi pada 20 Mei di US$2,461.70.

Kenaikan ini terjadi karena para pedagang tetap optimis terhadap prospek logam mulia, dengan laporan mingguan Commitments of Traders menunjukkan peningkatan spekulasi jangka panjang.

"ETF emas fisik mencatat arus masuk mingguan sebesar 73koz... (sementara) posisi beli emas bersih CFTC meningkat sebesar 24,6 ribu kontrak menjadi 257 ribu kontrak," kata RBC Capital Markets.

Pelemahan dolar juga memberikan dukungan, dengan indeks dolar AS terakhir terlihat turun 0,06 poin menjadi 104,53.

Imbal hasil Treasury naik, menjadi bearish bagi emas karena tidak menawarkan bunga. Surat utang AS bertenor dua tahun terakhir terlihat membayar 4,985%, naik 2,8 basis poin, sedangkan imbal hasil obligasi 10 tahun naik 7,4 basis poin menjadi 4,544%.(mrv)

Sumber : MT Newswires

Emas Naik Terkait Pelemahan Dolar Saat Fokus Beralih ke Data Inflasi AS

 

Harga emas naik pada hari Selasa (28/5), dibantu oleh melemahnya dolar saat investor menantikan data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai waktu penurunan suku bunga.

Harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi $2,357.44 per ons pada pukul 13:55. dan (17.55 GMT). Emas berjangka AS ditutup 0,9% lebih tinggi pada $2,356.5.

"Indeks dolar turun dan kami melihat tingkat kurva imbal hasil turun sedikit. Emas keluar dari koreksi dan berada di sekitar level resistensi dan sekarang memantul lagi," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.

"Kami tetap cukup optimis terhadap emas. Saya masih berpikir bahwa ambiguitas kebijakan moneter Federal Reserve mungkin akan menghambat kenaikan harga emas dan pergerakannya akan sangat bergantung pada data di masa depan."

Dolar merosot ke level terendah dalam lebih dari satu minggu, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Fokus minggu ini adalah pada indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS, yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis pada hari Jumat.(mrv)

Sumber : Reuters

Minyak Mentah WTI Ditutup Naik 2,7% Saat Musim Mengemudi di AS Dimulai dan Terkait OPEC+

 

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup lebih tinggi pada hari Selasa (28/5) di tengah ekspektasi dimulainya musim mengemudi di AS akan memberikan dorongan terhadap permintaan menjelang pertemuan OPEC+ akhir pekan yang diperkirakan akan mempertahankan pembatasan pasokan.

Minyak mentah WTI untuk pengiriman Juli ditutup naik US$2,11 menjadi US$79,83 per barel, sedangkan minyak mentah Brent Juli, minyak acuan global terakhir terlihat naik US$0,97 menjadi US$84,07.

Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan dimulainya musim mengemudi di musim panas pada akhir pekan Memorial Day, sehingga mengurangi beberapa kekhawatiran atas lemahnya permintaan di tengah tingginya suku bunga dan meningkatnya persediaan minyak AS.

OPEC+ akan mengadakan pertemuan tingkat menteri virtual pada akhir pekan yang diperkirakan akan berakhir dengan keputusan untuk melakukan pengurangan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari yang dijadwalkan berakhir pada 30 Juni hingga kuartal ketiga karena kartel tersebut berupaya untuk mendukung harga.

"Brent diperdagangkan lebih tinggi untuk hari ketiga dengan bergabungnya WTI setelah ditutup kemarin, didorong oleh pembelian teknis setelah mendapat dukungan menjelang USD 80 minggu lalu, peningkatan prospek pertumbuhan dan permintaan, dan yang paling penting meningkatkan ketegangan geopolitik menjelang pertemuan OPEC+ pada hari Minggu," Saxo Bank dicatat.(mrv)

Sumber : MT Newswires

Minyak Mentah WTI Ditutup Naik 2,7% Saat Musim Mengemudi di AS Dimulai dan Terkait OPEC+

 

Harga minyak melanjutkan kenaikannya pada hari Rabu ( 29/5) pasca serangan lain terhadap sebuah kapal di Laut Merah menambah peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjelang pertemuan OPEC+.

Brent berjangka naik di atas $84 setelah ditutup 1,4% lebih tinggi pada hari Selasa, sementara West Texas Intermediate diperdagangkan lebih dari $80. Sebuah kapal curah telah memasuki perairan setelah diserang saat berlayar melalui jalur air utama, sementara tank-tank Israel telah mencapai pusat kota Rafah di selatan Gaza dalam invasi daratnya.

Minyak telah naik tahun ini ditengah ketegangan di Timur Tengah dan penurunan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, meskipun harga telah melemah sejak awal April karena melimpahnya pasokan di luar kelompok tersebut dan melemahnya permintaan di Asia. OPEC+ akan bertemu secara online pada hari Minggu dan diperkirakan akan memperpanjang pembatasannya hingga paruh kedua tahun 2024.

Di AS, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bahwa kebijakan bank sentralnya bersifat membatasi, namun para pengambil kebijakan belum sepenuhnya mengesampingkan kenaikan suku bunga tambahan. Para pembuat kebijakan The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level tertinggi dalam 23 tahun ketika mereka bertemu pada 11-12 Juni di Washington.

Minyak mentah Brent untuk penyelesaian bulan Juli naik 0,3% menjadi $84,50 per barel pada pukul 8:47 pagi waktu Singapura.

Minyak mentah WTI untuk pengiriman bulan Juli naik 0,4% menjadi $80,17 per barel. (Arl)

Sumber : Bloomberg

Senin, 27 Mei 2024

Minyak Stabil seiring Meningkatnya Ketegangan Geopolitik Jelang Pertemuan OPEC+

 

Harga minyak stabil pada hari Selasa (28/5) setelah menguat selama dua hari bahkan ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat menyusul kematian seorang tentara Mesir dalam bentrokan dengan pasukan Israel.

Patokan global Brent bertahan di dekat $83 per barel, sementara West Texas Intermediate naik tipis menuju $79. Militer Mesir mengonfirmasi bahwa seorang penjaga perbatasan tewas di penyeberangan Rafah ke Gaza pada hari Senin, yang dapat meningkatkan ketegangan dengan Israel.

Harga minyak telah meningkat tahun ini ditengah risiko geopolitik yang terus-menerus dan pengurangan produksi OPEC+ sekitar 2 juta barel per hari, yang diperkirakan akan diperpanjang oleh kelompok tersebut hingga paruh kedua tahun 2024 pada pertemuan hari Minggu. Harga telah turun sejak awal bulan April karena melemahnya permintaan dari Asia, menyebabkan spread cepat Brent mendekati struktur contango bearish yang menunjukkan bahwa pasokan meningkat dibandingkan dengan konsumsi.

Investor juga akan mencari tanda-tanda data permintaan bahan bakar AS setelah libur Memorial Day, yang biasanya menandai dimulainya musim mengemudi di musim panas.

Minyak mentah Brent untuk bulan Juli sedikit berubah pada $83,02 per barel pada pukul 8:42 pagi waktu Singapura. Minyak mentah WTI untuk bulan Juli naik 1,2% menjadi $78,63 per barel. Tidak ada penutupan pada hari Senin karena hari libur AS. (Arl)

Sumber : Bloomberg

Minyak Stabil saat Pembatasan OPEC+ Menyeimbangkan Kekhawatiran Suku Bunga

 

Harga minyak global stabil pada hari Selasa (28/5) karena prospek OPEC+ mempertahankan pembatasan pasokan minyak pada pertemuan tanggal 2 Juni dan harapan kuatnya permintaan bahan bakar AS di musim panas menyeimbangkan kekhawatiran mengenai suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Pada hari Senin, harga minyak naik lebih dari 1% dalam perdagangan yang tenang karena hari libur nasional di Inggris dan Amerika Serikat, karena harapan akan permintaan bahan bakar yang kuat dengan dimulainya musim mengemudi dan liburan di musim panas di AS memberikan dukungan.

Minyak Brent untuk pengiriman bulan Juli, acuan global, naik 17 sen atau 0,2% menjadi $83,27 per barel pada pukul 08.10 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di $78,79, naik $1,07 atau 1,4%, dari penutupan hari Jumat, setelah diperdagangkan selama hari libur AS untuk menandai Memorial Day tanpa penyelesaian.

Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga AS dalam jangka waktu yang lebih lama membantu menyebabkan minyak mentah mengalami kerugian mingguan pada minggu lalu. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman, yang dapat mengurangi aktivitas ekonomi dan permintaan minyak.

Dalam hal perjalanan udara, jumlah kursi di AS pada penerbangan domestik pada bulan Mei naik 5% bulan ke bulan dan hampir 6% tahun ke tahun menjadi sedikit di atas 90 juta, menurut data dari perusahaan analisis penerbangan OAG, yang melampaui angka pada tahun 2019. (Tgh)

Sumber: Reuters

Minggu, 26 Mei 2024

Minyak Dekati Level Terendah Tiga Bulan Dengan Fokus pada Pasokan OPEC+, Permintaan AS

 

Minyak stabil setelah penurunan mingguan terbesarnya dalam empat minggu terakhir, dengan fokus pada pertemuan pasokan OPEC+ pada hari Minggu dan permintaan AS pada awal musim mengemudi di musim panas.

Brent berjangka bertahan di atas $82 per barel setelah turun 2,2% minggu lalu dan menyentuh level terendah sejak awal Februari, sementara West Texas Intermediate mendekati $78. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya akan mengadakan pertemuan kebijakannya secara online, dan diperkirakan akan memperpanjang pengurangan produksi hingga paruh kedua tahun 2024.

Pasar tutup pada hari Senin (27/5) untuk hari libur di Inggris dan Amerika Serikat, saat akhir pekan Memorial Day mengawali musim berkendara di musim panas. Jumlah orang yang diperkirakan akan terbang selama akhir pekan mungkin merupakan yang tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir, menurut American Automobile Association.

Brent naik sekitar 7% tahun ini, didukung oleh risiko geopolitik yang terus-menerus dan pengurangan produksi OPEC+ sebesar 2 juta barel per hari. Namun, harga minyak berjangka telah jatuh sejak pertengahan April karena kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah akan menyebar dan mengganggu aliran minyak telah mereda.

Minyak Brent untuk penyelesaian bulan Juli naik 0,2% menjadi $82,29 per barel pada pukul 11:57 waktu Singapura.

Spread cepatnya adalah turun sebesar 20 sen, dibandingkan dengan 65 sen pada awal bulan

Minyak WTI untuk pengiriman Juli naik 0,3% menjadi $77,96 per barel. (Arl)

Sumber : Bloomberg

Harga Minyak Sedikit Berubah seiring Pasar Menantikan Pertemuan OPEC+

 

Harga minyak berada dalam pola bertahan di awal perdagangan Asia pada hari Senin (27/5) karena pasar menunggu pertemuan OPEC+ pada tanggal 2 Juni di mana produsen diperkirakan akan membahas mempertahankan pengurangan produksi secara sukarela untuk sisa tahun ini.

Kontrak minyak mentah Brent untuk bulan Juli naik tipis 11 sen menjadi $82,23 per barel pada pukul 00.36 GMT. Kontrak Agustus yang lebih aktif, LCOc2, naik 13 sen menjadi $81,97.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 13 sen menjadi $77,85.

Hari libur umum di AS dan Inggris pada hari Senin diperkirakan akan menjaga perdagangan relatif tipis.

Pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, diundur satu hari menjadi 2 Juni dan akan diadakan secara online, kata OPEC pada hari Jumat.

Para produsen akan mendiskusikan apakah akan memperpanjang pengurangan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari hingga paruh kedua tahun ini, dengan tiga sumber dari negara-negara OPEC+ mengatakan kemungkinan perpanjangan tersebut.

Dikombinasikan dengan pengurangan produksi sebesar 3,66 juta barel per hari yang berlaku hingga akhir tahun, pengurangan produksi tersebut setara dengan hampir 6% dari permintaan minyak global.

OPEC memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak akan relatif kuat pada tahun berikutnya sebesar 2,25 juta barel per hari, sementara Badan Energi Internasional memperkirakan pertumbuhan akan jauh lebih lambat sebesar 1,2 juta barel per hari. (Arl)

Sumber : Reuters

Kamis, 23 Mei 2024

Minyak Stabil karena Meningkatnya Permintaan Bensin AS

Harga minyak stabil di awal sesi pada hari Jumat (24/5) karena para pelaku pasar mempertimbangkan komentar terbaru Federal Reserve AS mengenai suku bunga di tengah inflasi yang tinggi, sementara penguatan permintaan bahan bakar musiman AS memberikan dukungan.

Minyak mentah berjangka Brent naik 1 sen menjadi $81,37 per barel pada 00.02 GMT. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 2 sen menjadi $76,85.

Kedua benchmark tersebut menetap di posisi terendah beberapa bulan pada hari Kamis, dengan minyak mentah berjangka Brent ditutup pada titik terlemahnya sejak bulan Januari dan minyak mentah berjangka AS mencapai level terendah dalam tiga bulan.

Sementara itu, penguatan permintaan bensin di AS membantu menstabilkan harga menjelang liburan akhir pekan Memorial Day, yang dianggap sebagai awal musim mengemudi di musim panas di AS.

Permintaan bensin di AS mencapai level tertinggi sejak November, Badan Informasi Energi (EIA) mengatakan pada hari Rabu. Hal ini membantu mendukung pasar karena pengemudi di AS menyumbang sekitar sepersepuluh dari permintaan minyak global, "menjadikan musim mengemudi yang akan datang sebagai pilar pemulihan pertumbuhan permintaan global", kata analis ANZ dalam sebuah catatan. (Tgh)

Sumber: Reuters

Minyak Mentah WTI Ditutup Turun untuk Hari Keempat Ditengah Sinyal Bearish

 

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup lebih rendah untuk sesi keempat berturut-turut pada hari Kamis (23/5) ditengah permintaan yang lemah, meningkatnya persediaan dan memudarnya harapan penurunan suku bunga AS dalam jangka pendek.

Minyak mentah WTI untuk pengiriman Juli ditutup turun US$0,70 menjadi US$76,87 per barel, sedangkan minyak mentah Brent bulan Juli, yang menjadi patokan global, terakhir terlihat turun US$0,87 menjadi US$81,03.

Minyak sebagian besar diperdagangkan dalam kisaran yang ketat sejak awal Mei karena permintaan tetap moderat menjelang dimulainya musim berkendara di AS pada akhir pekan Memorial Day. Badan Informasi Energi (EIA) pada hari Rabu melaporkan kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak AS, menunjukkan pasokan lebih dari yang diharapkan.

"Persediaan minyak mentah komersial naik +1,8mmbbls minggu lalu (vs konsensus -2,0mmbbls/-2,5mmbbls rata-rata 5 tahun), jauh lebih buruk dibandingkan dengan penurunan tajam minyak mentah tahun lalu sebesar -12,5mmbbls dengan stok sekarang berada +1% di atas level tahun lalu, " kata Jenny Ryu, seorang analis Tudor, Pickering, Holt.

Laporan bearish ini mungkin meyakinkan OPEC+ untuk melanjutkan pemotongan sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari yang dijadwalkan berakhir pada 30 Juni hingga kuartal ketiga ketika mereka mengadakan pertemuan tingkat menteri pada 1 Juni.

Harapan terhadap stimulus suku bunga yang lebih rendah memudar setelah risalah pertemuan terakhir komite kebijakan Federal Reserve menunjukkan beberapa anggota masih tidak yakin bahwa suku bunga tinggi sudah cukup untuk menarik inflasi kembali ke target bank sentral sebesar 2%. (Arl)

Sumber : MT Newswires

Selasa, 21 Mei 2024

Harga Emas Stabil seiring Fokus Beralih ke Risalah Fed AS

 

Harga emas stabil dan berada di atas level $2.400 pada hari Rabu (22/5), sementara investor menunggu risalah pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai waktu penurunan suku bunga AS.

Harga emas di pasar spot bertahan di $2,415.35 per ounce, pada 03.45 GMT. Emas batangan mencapai rekor tertinggi $2,449.89 pada hari Senin. Emas berjangka AS turun 0,3% pada $2,419.00.

Risalah pertemuan kebijakan The Fed bulan Mei akan dirilis pada pukul 18.00 GMT. Pedagang saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 64% pada bulan September.

Emas telah menguat di atas level $2.400 menjelang kemungkinan pelonggaran suku bunga di akhir tahun ini, namun untuk mencapai rekor tertinggi, mungkin diperlukan penurunan dolar atau imbal hasil obligasi, atau peningkatan permintaan safe-haven. kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

Perak di pasar spot turun 0,8% menjadi $31,71 setelah mencapai level tertinggi dalam 11 tahun pada hari Senin.

"Harga perak lebih didorong oleh momentum dan penembusan level resistensi utama lebih merupakan upaya mengejar ketertinggalan mengingat ketahanan harga emas," kata Wong.

Platinum naik tipis 0,1% menjadi $1,047.76 dan paladium turun 0,7% menjadi $1,018.85. (Tgh)

Sumber: Reuters

Minyak Turun karena Kemungkinan Suku Bunga AS 'Lebih Tinggi untuk Jangka Panjang'

 

Harga minyak turun untuk sesi ketiga berturut-turut pada hari Rabu (22/5) di tengah ekspektasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga AS lebih tinggi lebih lama karena inflasi yang berkelanjutan, yang berpotensi berdampak pada penggunaan bahan bakar di konsumen minyak terbesar dunia.

Minyak mentah berjangka Brent turun 60 sen, atau 0,7%, menjadi $82,28 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 64 sen, atau 0,8%, menjadi $78,02 pada pukul 03.46 GMT pada hari Rabu (22/5).

Harga minyak turun sekitar 1% pada hari Selasa.

Pengambil kebijakan The Fed mengatakan pada hari Selasa bahwa bank sentral AS harus menunggu beberapa bulan lagi untuk memastikan bahwa inflasi benar-benar kembali ke jalur menuju target 2% sebelum memangkas suku bunga.

Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan minyak.

Persediaan minyak mentah dan bensin AS naik minggu lalu, sementara persediaan minyak sulingan turun, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada hari Selasa.

Menjelang liburan Memorial Day akhir pekan ini, yang mengawali puncak musim mengemudi di musim panas di AS, harga bensin eceran turun selama empat minggu berturut-turut. Harga solar di AS, produk penyulingan utama bagi sektor industri dan transportasi, juga merosot. (Tgh)

Sumber: Reuters

Senin, 20 Mei 2024

Minyak Jatuh saat Kekhawatiran Tingginya Suku Bunga AS Menekan Permintaan

 

Harga minyak turun di awal perdagangan Asia pada hari Selasa (21/5), karena investor mengantisipasi inflasi AS yang berkepanjangan dan suku bunga yang lebih tinggi akan menekan permintaan konsumen dan industri.

Minyak mentah berjangka Brent turun 44 sen, atau 0,53%, menjadi $83,27 per barel pada 03.13 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 51 sen, atau 0,64%, menjadi $79,29 per barel.

Kedua benchmark tersebut turun kurang dari 1% pada hari Senin karena pejabat Federal Reserve AS mengatakan mereka sedang menunggu lebih banyak tanda-tanda perlambatan inflasi sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya pinjaman, sehingga memberikan kebebasan dana yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Investor fokus pada pasokan dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan afiliasinya, yang dikenal sebagai OPEC+. Mereka dijadwalkan bertemu pada tanggal 1 Juni untuk menetapkan kebijakan produksi, termasuk apakah akan memperpanjang pemotongan sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari yang dilakukan beberapa anggota. (Tgh)

Sumber: Reuters

Pasar Minyak Menunjukkan Outlook Lemah Menjelang Pertemuan OPEC+

 

Pasar minyak menunjukkan tanda-tanda pelemahan meskipun ketegangan geopolitik baru-baru ini meningkat menjelang pertemuan OPEC+ mengenai pasokan.

Selisih harga minyak mentah Brent telah menyempit ke tingkat terendah sejak bulan Januari, sementara para pengelola keuangan terus mengurangi spekulasi mereka terhadap kenaikan harga minyak mentah acuan global. Kontrak berjangka diperdagangkan dalam kisaran yang ketat dan volatilitas tersirat mendekati level terendah sejak 2019.

Minyak Brent mengalami kerugian kecil di bawah $84 per barel pada hari Selasa (21/5), sementara minyak West Texas Intermediate berada di bawah $80, meskipun ada lebih banyak serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap penyulingan Rusia dan serangan Houthi lainnya di Laut Merah selama akhir pekan.

Harga minyak mentah naik sekitar 9% tahun ini karena pemangkasan produksi OPEC+, namun harga minyak Brent berjangka telah menurun sejak pertengahan April. Para pedagang menantikan pertemuan OPEC+ pada awal Juni yang akan menetapkan kebijakan pasokan kelompok tersebut untuk paruh kedua, meskipun sebagian besar pengamat pasar memperkirakan perpanjangan pembatasan yang ada.

Minyak Brent untuk penyelesaian bulan Juli sedikit berubah pada $83,64 per barel pada pukul 9:15 pagi waktu Singapura. Minyak WTI untuk pengiriman bulan Juni, yang berakhir pada hari Selasa, stabil di $79,72 per barel. Kontrak Juli yang lebih aktif turun 0,1% menjadi $79,20 per barel. (Tgh)

Sumber: Bloomberg

Minggu, 19 Mei 2024

Harga Perak Hari Ini: Perak Naik, Menurut Data FXStreet

 

Harga perak (XAG/USD) naik pada hari Senin (20/5), menurut data FXStreet. Perak diperdagangkan pada $31,97 per troy ons, naik 1,46% dari harga $31,51 pada hari Jumat.

Harga perak telah meningkat sebesar 25,52% sejak awal tahun.

Rasio Emas/Perak, yang menunjukkan jumlah troy ons Perak yang dibutuhkan untuk menyamai nilai satu troy ons Emas, berada di 76,36 pada hari Senin, turun dari 76,66 pada hari Jumat.

Investor mungkin menggunakan rasio ini untuk menentukan penilaian relatif Emas dan Perak. Beberapa orang mungkin menganggap rasio yang tinggi sebagai indikator bahwa Perak dinilai terlalu rendah “ atau Emas dinilai terlalu tinggi “ dan mungkin membeli Perak atau menjual Emas sesuai dengan nilai tersebut. Sebaliknya, rasio yang rendah mungkin menunjukkan bahwa Emas dinilai terlalu rendah dibandingkan Perak.(mrv)

Sumber : FXstreet

Emas Sentuh Rekor Tertingginya Terkait Spekulasi Pemotongan Suku Bunga, Perak Melonjak

 

Harga emas mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada hari Senin (20/5) karena tren inflasi AS yang melambat meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera melakukan penurunan suku bunga pertamanya, sementara perak mencapai puncaknya dalam lebih dari 11 tahun.

Harga emas di pasar spot naik 1% menjadi $2,439.39 per ons setelah mencapai rekor tertinggi di atas $2440 pada awal sesi.

Emas berjangka AS naik 1,1% menjadi $2,443.30.

Pendorong utama bagi emas adalah melemahnya dolar AS dan sentimen meningkat atas dasar bahwa Federal Reserve diperkirakan akan segera menurunkan suku bunganya, kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan di Capital.com.

Indeks dolar tetap lemah, membuat emas batangan yang dihargai dalam greenback lebih menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Data minggu lalu menunjukkan tanda-tanda menurunnya inflasi dan para pedagang kini memperkirakan peluang 65% penurunan suku bunga AS pada bulan September.

Emas batangan dikenal sebagai lindung nilai inflasi, namun suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Risalah pertemuan kebijakan terakhir The Fed yang dijadwalkan pada hari Rabu bersama dengan komentar dari sejumlah pembicara The Fed akan menjadi perhatian investor untuk minggu ini.

Perak di pasar spot naik 1,3% menjadi $31,89 setelah menyentuh level tertinggi dalam 11 tahun.(mrv)

Sumber : Reuters

Kamis, 16 Mei 2024

Emas Stabil saat Kajian Kembali Jalur Suku Bunga Pasca Pidato Hawkish Fed

 

Emas menahan penurunan pada Kamis (17/5), dengan para pedagang kembali mengkaji jalur suku bunga di waktu kedepan setelah pejabat Federal Reserve menegaskan kembali bahwa inflasi AS perlu surut lebih jauh untuk menjamin suku bunga yang lebih rendah.

Imbal hasil Treasury AS naik karena Presiden Fed Richmond Thomas Barkin dan John Williams dari Fed New York memberi isyarat bahwa suku bunga perlu tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Komentar tersebut menghilangkan optimisme sebelumnya atas berkurangnya tekanan harga, setelah penurunan data pada hari Rabu menunjukkan ukuran inflasi AS mendingin pada bulan April untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Suku bunga dan imbal hasil yang lebih tinggi biasanya berdampak negatif bagi emas batangan, karena tidak memberikan bunga.

Namun, logam mulia ini menuju kenaikan beruntun mingguan keduanya karena pasar meningkatkan spekulasinya terhadap penurunan suku bunga dalam beberapa pekan terakhir. Pedagang swap sekarang melihat peluang 51% bahwa The Fed akan melakukan pivot pada bulan September, dibandingkan dengan 30% pada akhir April.

Pasca reli yang mencapai rekor tertingginya pada pertengahan April, emas telah diperdagangkan dalam kisaran yang cukup sempit dalam beberapa pekan terakhir di tengah kurangnya kejelasan mengenai jalur suku bunga AS. Harga telah meningkat 15% tahun ini, dengan kenaikan yang didukung oleh pembelian oleh bank sentral, peningkatan risiko geopolitik dan permintaan konsumen Tiongkok.

Sementara perak telah mengungguli emas tahun ini, yang naik 25% karena permintaan finansial dan industri yang kuat, dan rasionya terhadap emas menunjukkan bahwa perak mungkin akan memperpanjang kenaikan tersebut.

Harga emas di pasar spot sedikit berubah menjadi $2,378.01 per ons pada pukul 8:51 pagi di Singapura, berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 0,8%. Indeks Bloomberg Dollar Spot datar. Perak naik, sementara platinum dan paladium melemah.(yds)

Sumber: Bloomberg

Dibantu oleh Prospek Penurunan Suku Bunga Fed, Minyak Naik Tipis

 

Minyak sedikit lebih tinggi pada awal perdagangan Jumat (17/5), yang dibantu oleh prospek penurunan suku bunga The Fed yang akan membantu mendukung perekonomian AS dan permintaan energi.

Sementara Chris Beauchamp, kepala analis pasar di IG, mengatakan dalam komentarnya, "melemahnya dolar AS bersamaan dengan harapan permintaan minyak yang lebih kuat di semester kedua telah membantu pembeli mengumpulkan kekuatan untuk mendukung harga minyak di sekitar level saat ini. Meskipun harga minyak telah mengalami periode yang bergejolak sejauh ini di bulan Mei, tampaknya harga minyak sedang berada pada titik terendahnya, tambah analis tersebut.

Harga minyak mentah berjangka WTI bulan depan naik 0,1% menjadi $79,33/bbl; Minyak mentah berjangka Brent bulan depan naik 0,2% menjadi $83,43/bbl.(yds)

Sumber: AFP

Rabu, 15 Mei 2024

Dolar Stabil Setelah Penurunan Tajam Akibat CPI; Euro Kembalikan Beberapa Keuntungan

 

Dolar AS stabil di perdagangan Eropa pada hari Kamis (16/5), setelah jatuh ke posisi terendah multi-minggu semalam setelah laporan inflasi AS yang lebih lemah, yang menjadikan penurunan suku bunga Fed kembali menjadi fokus.

Pada pukul 04:25 ET (08:25 GMT), Indeks Dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, diperdagangkan 0,1% lebih tinggi pada 104,285, setelah jatuh ke level terendah lima minggu tepat di bawah level 104 semalam.

Dolar masih melemah setelah data inflasi AS terbaru meningkatkan ekspektasi Federal Reserve akan melakukan dua kali penurunan suku bunga tahun ini, mungkin dimulai pada bulan September.

Indeks harga konsumen pada hari Rabu naik sebesar 0,3% pada bulan April, di bawah perkiraan kenaikan sebesar 0,4%, yang melegakan pasar setelah harga konsumen yang kaku pada kuartal pertama telah menyebabkan berkurangnya taruhan penurunan suku bunga dan bahkan memicu beberapa kekhawatiran akan penurunan suku bunga.

Data tersebut juga mengakibatkan imbal hasil Treasury AS merosot ke level terendah enam minggu, karena para pedagang menilai kembali kemungkinan arah kebijakan moneter The Fed.

Di Eropa, EUR/USD diperdagangkan 0,1% lebih rendah ke 1,0867, dengan euro sedikit melemah pada hari Kamis setelah sebelumnya naik ke level tertinggi sejak 21 Maret.

ECB diperkirakan akan mulai memangkas suku bunga dari rekor tertingginya pada bulan Juni, dan pasar kini memperkirakan akan terjadi tiga kali penurunan suku bunga pada tahun ini, atau dua kali setelah bulan Juni, kemungkinan besar pada bulan September dan Desember.

GBP/USD turun 0,1% menjadi 1,2675, dengan sterling mengembalikan sebagian kenaikan sesi sebelumnya ketika naik di atas 1,27 untuk pertama kalinya sejak 10 April.

Bank of England (BOE) juga diperkirakan akan menurunkan suku bunga dari level tertingginya dalam 16 tahun pada musim panas ini, namun pertumbuhan PDB yang lebih kuat dari perkiraan baru-baru ini dapat menunda hal ini hingga keputusan ECB berakhir.

Di Asia, USD/JPY turun 0,2% menjadi 154,64, dengan yen mendapatkan keuntungan dari melemahnya dolar, namun pasangan ini tetap jauh di atas level yang dicapai pada awal bulan Mei, ketika pemerintah terlihat melakukan intervensi di pasar mata uang.

Pemulihan yen terhenti karena data produk domestik bruto (PDB) menunjukkan ekonomi Jepang menyusut lebih besar dari perkiraan pada kuartal pertama, meningkatkan keraguan mengenai seberapa besar ruang yang dimiliki Bank of Japan (BOJ) untuk terus menaikkan suku bunga.

USD/CNY sebagian besar diperdagangkan datar di 7,2187, karena sentimen terhadap Tiongkok masih lemah setelah Washington memberlakukan tarif perdagangan yang lebih ketat pada industri-industri utama Tiongkok, seperti kendaraan listrik, obat-obatan, dan teknologi tenaga surya. (knc)

Sumber : Investing.com

Yen Menguat Sementara Dolar Stabil Setelah Inflasi AS Melambat

 

Yen Jepang menguat untuk hari kedua pada hari Kamis (16/5) setelah data pada hari Rabu menunjukkan perlambatan inflasi AS, sementara dolar mendapatkan dorongan terhadap mata uang lainnya menyusul penurunan tajam pada hari sebelumnya.

Inflasi AS melambat menjadi 0,3% di bulan April dari bulan sebelumnya, turun dari 0,4% di bulan Maret dan di bawah ekspektasi 0,4% lainnya, data hari Rabu menunjukkan.

Inflasi inti tahun-ke-tahun “ tidak termasuk harga makanan dan energi yang berfluktuasi “ turun ke level terendah dalam tiga tahun pada 3,6%. Sementara itu, penjualan ritel datar, menunjukkan kondisi penurunan suku bunga Federal Reserve sudah tepat sasaran.

Dolar turun 1% terhadap yen pada hari Rabu setelah data tersebut dirilis dan turun 0,38% lebih lanjut pada hari Kamis di 154,32, setelah jatuh ke level 153,6 sebelum angka pertumbuhan Jepang yang lemah menekan yen.

Mata uang Jepang telah jatuh sekitar 9,5% tahun ini karena Bank of Japan (BOJ) mempertahankan kebijakan moneternya yang longgar, sementara suku bunga The Fed yang lebih tinggi telah menarik uang ke obligasi AS dan dolar. Yen sangat sensitif terhadap pelebaran atau penutupan perbedaan suku bunga.

Indeks dolar, yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir naik 0,11% menjadi 104,32 pada hari Kamis setelah turun 0,75% pada hari Rabu karena investor meningkatkan taruhan mereka terhadap penurunan suku bunga Fed, dan sekarang memperkirakan dua penurunan pada akhir tahun.

Euro mencapai level tertinggi dua bulan di $1,0895 pada hari Kamis sebelum turun 0,1% lebih rendah pada $1,0874. Pound Inggris mencapai level tertinggi satu bulan di $1,2675 sebelum mengalami penurunan tipis.

Dolar Australia, yang melonjak 1% pada hari Rabu, mencapai level tertinggi empat bulan di $0,6714 tetapi kemudian terhenti setelah peningkatan pengangguran Australia yang tidak terduga.

Harga terakhir berada di $0,6684 karena para pedagang memperhitungkan segala risiko kenaikan suku bunga lebih lanjut di Australia. (knc)

Sumber : Reuters

Selasa, 14 Mei 2024

Dolar Bertahan di Dekat Level Terendah Sepekan Jelang CPI AS

 

Dolar bertahan mendekati level terendah satu pekan karena para pedagang menunggu rilis data utama inflasi AS pada Rabu malam guna mendapatkan petunjuk mengenai waktu penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Sementara dolar Australia dan Selandia Baru menguat.

Di perdagangan Asia indeks Bloomberg Dollar Spot sedikit berubah, yang mendekati level terendah sejak bulan Mei. Imbal hasil Treasury AS juga stabil setelah Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid mengatakan suku bunga bisa tetap tinggi untuk beberapa waktu karena para pejabat menunggu bukti bahwa tekanan harga mulai berkurang.

Data AS pada hari Rabu (15/5) diperkirakan menunjukkan kenaikan harga konsumen stabil di 0,4% bulan ke bulan di bulan April, namun melambat menjadi 3,4% tahun ke tahun dari 3,5% di bulan Maret, menurut survei ekonom Bloomberg.

Pasangan AUD/USD naik 0,3% menjadi 0,6645 sebagai respons terhadap laporan bahwa Tiongkok sedang mempertimbangkan proposal agar pemerintah daerah di seluruh negeri membeli jutaan rumah yang tidak terjual, dalam upaya ambisius untuk menyelamatkan pasar properti yang tertekan.

Sementara pertumbuhan upah Australia melambat untuk pertama kalinya sejak parahnya pandemi pada tiga bulan pertama di tahun ini. Hal ini merupakan hasil positif bagi RBA yang tetap mewaspadai tekanan harga dalam perekonomian.

Pasangan NZD/USD naik 0,3% menjadi 0,6056. Untuk pasangan USD/JPY diperdagangkan sedikit berubah di level 156,44.(yds)

Sumber: Bloomberg

Dolar Melemah Jelang Uji CPI Penting; Yen di Bawah Tekanan

 

Dolar diperdagangkan mendekati level terendah satu bulan terhadap euro pada hari Rabu (15/5) di tengah penurunan imbal hasil Treasury saat para pedagang bersiap untuk laporan inflasi utama AS hari ini yang dapat menentukan jalur kebijakan Federal Reserve.

Yen melemah mendekati level terendah dalam dua minggu, karena kesenjangan imbal hasil (yield gap) yang masih menganga antara obligasi lokal dan obligasi AS terus mendorong penjualan mata uang Jepang.

Euro turun tipis 0,04% menjadi $1,0814 pada awal jam perdagangan Asia, namun tetap mendekati level tertinggi semalam di $1,09255, level yang terakhir terlihat pada 10 April.

Indeks dolar AS yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama lainnya, namun sangat bergantung pada euro yang datar di 105,04 setelah kemarin turun ke level terendah 1 setengah pekan di 104,95.

Sementara semalam imbal hasil Treasury AS jangka panjang sedikit berubah pada 4,4472% setelah turun 3 1/2 basis poin (bp).

Harga konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal pertama tahun ini merupakan kekuatan pendorong bagi penetapan harga yang tajam terhadap laju penurunan suku bunga The Fed, dan pertaruhan tersebut kini dikurangi menjadi sekitar 45 bps penurunan pada tahun ini.

Meskipun dolar melemah secara luas semalam terhadap mayoritas mata uang sejenis, dolar terus menguat terhadap yen. Dolar menguat 0,06% menjadi 156,535 yen pada hari Rabu, setelah mendorong setinggi 156,80 semalam.

Berbeda dengan AS, imbal hasil jangka panjang Jepang hanya 0,96%, bahkan dengan retorika Bank of Japan yang berubah menjadi lebih hawkish dalam beberapa hari terakhir dan prospek kenaikan suku bunga lagi di bulan Juni semakin meningkat.

Lonjakan dolar ke level tertinggi dalam 34 tahun di 160,245 yen pada tanggal 29 April memicu dua putaran pembelian yen secara agresif yang diduga dilakukan oleh BOJ dan Kementerian Keuangan Jepang.

Dolar berada di 7,2409 yuan dalam perdagangan luar negeri, setelah merosot ke level terendah sejak 1 Mei di 7,2460 semalam.

Di tempat lain, dolar Australia naik ke level tertinggi satu minggu di $0,6630 pada hari ini, sementara dolar Selandia Baru naik ke level tertinggi lebih dari satu bulan di $0,6051.

Mata uang kripto Bitcoin sedikit berubah pada $61,636.(yds)

Sumber: Reuters

Senin, 13 Mei 2024

Minyak Tetap Stabil Saat Para Pedagang Mengkaji Laporan OPEC, Menunggu Data AS

 

Minyak bertahan stabil setelah data OPEC menunjukkan negara-negara yang berpartisipasi dalam pengurangan produksi terbaru melebihi kuota mereka.

Brent diperdagangkan di atas $83 per barel setelah naik 0,7% pada hari Senin, dengan West Texas Intermediate mendekati $79. Laporan bulanan kartel ini muncul ketika pengurangan produksi kilang dan penyempitan rentang waktu menandakan pasar yang sedikit lebih lemah “ dan hanya beberapa minggu sebelum anggota bertemu untuk memutuskan kebijakan produksi di paruh kedua.

Para pedagang juga menunggu data harga produsen AS pada Selasa malam, diikuti dengan laporan konsumen pada hari berikutnya, yang akan menghasilkan petunjuk apakah Federal Reserve mempunyai kelonggaran untuk menurunkan suku bunga tahun ini.

Harga minyak mentah telah berada pada tren penurunan sejak bulan April, seiring dengan hilangnya premi risiko geopolitik yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah. Meski begitu, harga tetap lebih tinggi sepanjang tahun ini karena OPEC dan sekutunya membatasi aliran minyak.

Laporan kelompok tersebut pada hari Selasa menunjukkan bahwa anggota OPEC+ yang melakukan pemotongan ekstra menghasilkan 568.000 barel per hari di atas batas yang disepakati bulan lalu. Negara-negara utama dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitra-mitranya meluncurkan pembatasan baru tahun ini dalam upaya untuk mencegah surplus global dan menaikkan harga. Aliansi ini diperkirakan akan memperpanjang pemotongan pada pertemuan 1 Juni.

Brent untuk penyelesaian bulan Juli tetap stabil di $83,42 per barel pada pukul 11:20 pagi di London.

WTI untuk bulan Juni juga sedikit berubah pada $79,18 per barel.(mrv)

Sumber : Bloomberg

Pound Turun Terkait Komentar Huw Pil dari BOE Jelang PPI AS

 

Pound memimpin kerugian dalam mata uang Kelompok 10 setelah Kepala Ekonom Bank of England Huw Pill mengatakan bahwa penurunan suku bunga di musim panas akan segera dilakukan.

GBP/USD turun sebanyak 0,4% menjadi 1,2510; Pill mengatakan "masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan" untuk menekan inflasi yang dihasilkan di dalam negeri di Inggris.

Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,1%, menuju kenaikan hari ketiga, terutama didukung oleh pelemahan yen, karena para pedagang menunggu rilis indikator utama inflasi AS.

Harga minyak utama produsen AS kemungkinan naik 0,3% pada bulan April dibandingkan 0,2% sebelumnya, sementara inflasi umum pada bulan yang sama diperkirakan akan tetap pada 0,4%, menurut survei Bloomberg.

USD/JPY naik 0,2% menjadi 156,54, tertinggi sejak 1 Mei; dana leverage telah memulai posisi buy sejak penutupan New York setelah pasangan ini naik di atas level tertinggi 2 Mei di 156,28 menjelang data PPI AS yang akan dirilis Selasa nanti, menurut pedagang yang berbasis di Asia.

EUR/USD menghapus penurunan dan diperdagangkan sedikit berubah di 1,0790; pembalikan risiko satu minggu adalah yang paling bullish pada pasangan ini sejak bulan Februari karena dana lindung nilai mengurangi eksposur jangka pendek.(mrv)

Sumber : Bloomberg

IHSG Dibuka Naik 0,42%, Cek Saham SMRA, ULTJ, dan ISAT

PT. Equityworld Futures Manado - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini, Rabu (15/5/2024) dibuka menguat 0,42% ke level 7.113,572. Sebanyak 197 saham naik, 127 turun, dan 187 saham stagnan. 

IHSG mencatat transaksi senilai Rp 1,07 triliun yang melibatkan 1,5 miliar saham dalam 84.502 transaksi. 

Pembukaan hari ini berlawanan dengan kondisi IHSG kemarin. IHSG pada perdagangan kemarin, Selasa (14/5/2024) ditutup melemah 0,22% di level 7.083,76. Mengutip RTI, tercatat turnover IHSG berada di angka Rp14,38 triliun. Transaksi berasal dari volume saham sebanyak 18,29 miliar lembar, dimana 273 saham naik, 267 turun dan 236 tidak berubah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatile hari ini karena investor menunggu data-data ekonomi mulai dari luar negeri yaitu inflasi konsumen AS serta dari dalam negeri diantaranya rilis neraca perdagangan & ekspor-impor Indonesia dan rilis data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia.

Berikut saham yang menarik untuk disimak pada hari ini:

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)

SMRA saat ini sedang membentuk pola Inverted Head and shoulders yang mengindikasikan bahwa harga berpotensi melakukan bullish reversal ke area resistance selanjutnya didukung oleh kenaikan volume dan momentum RSI yang sedang menguat menembus pivot (50). SMRA saat ini memiliki PER 9.2x yang menunjukan valuasi yang undervalue, karena harga berada di area -1 PE standar deviasi selama 5 tahun terakhir, yaitu sebesar 10.6x.

Buy: 530
Take Profit: 570
Stop Loss: 505

PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ)

ULTJ masih bergerak di dalam uptrend channel dengan potensi penguatan lanjutan setelah harga berhasil menguji area support level. Penguatan ini berpeluang berlanjut ke area resistance uptrend channel dengan dukungan dari momentum RSI yang juga telah menguat dari area pivot (50). ULTJ saat ini memiliki PER 16.2x yang menunjukkan valuasi yang wajar, karena harga berada di area mean PE standar deviasi selama 5 tahun terakhir, yaitu sebesar 16.9x.

Buy: 1900
Take Profit: 2000
Stop Loss: 1830

PT Indosat Tbk (ISAT)

ISAT sedang membentuk pola double bottom dengan potensi menembus resistance neckline pola tersebut dan menuju area classic resistance selanjutnya. Potensi kenaikan ini didukung oleh momenstum RSI yang sedang bergerak bullish di area netral menuju area overbought. ISAT saat ini memiliki PBV 2.7x yang menunjukan valuasi yang overvalue, karena harga berada di area +1 PB standar deviasi selama 5 tahun
terakhir, yaitu sebesar 2.6x.

Buy: 11050
Take Profit: 11850
Stop Loss: 10400

 

 cnbcindonesia.com/market

IHSG Dibuka Naik 0,6%, Saham BBRI dan BMRI Jadi Penopang

PT. Equityworld Futures Manado - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik 0,6% ke level 7.126,561 pada perdagangan hari ini, Rabu (15/5/2024). Sebanyak 210 saham naik, 150 turun, dan 190 diam di tempat.

Indeks mencatat nilai transaksi hingga pukul 09.13 WIB mencapai Rp 1,55 triliun yang melibatkan 2,19 miliar saham dalam 123.214 kali transaksi. 

Adapun saham perbankan besar mulai bergerak positif. Saham BRI (BBRI) naik 1,48% ke 4.800 dan Bank Mandiri (BMRI) naik 0,81% ke 6.250. Akan tetapi saham BNI (BBNI) dan BCA (BBCA) sebaliknya. BBNI turun 0,61% ke 4.900 dan BBCA turun 0,52% ke 9.500.

IHSG pada pembukaan hari ini berbalik dari penutupan perdagangan kemarin. IHSG pada perda Selasa (14/5/2024) ditutup melemah 0,22% di level 7.083,76. Mengutip RTI, tercatat turnover IHSG berada di angka Rp14,38 triliun. Transaksi berasal dari volume saham sebanyak 18,29 miliar lembar, dimana 273 saham naik, 267 turun dan 236 tidak berubah.

Berdasarkan data Refinitiv, penguatan IHSG didorong dari kenaikan empat sektor di mana sektor utilities menjadi sektor dengan pemberat terbesar mencapai 1,71%, kemudian disusul sektor konsumer non siklikal sebesar 0,88%.

Saham konglomerasi Grup Astra yakni PT Astra International Tbk (ASII) menjadi pemberat terbesar IHSG pada akhir perdagangan kemarin, yakni mencapai 22,3 indeks poin.

Sebagai informasi, saham ASII akan membagikan dividen tunai kepada pemegang sahamnya dengan total Rp 21 triliun atau Rp 519 per saham dari laba bersih tahun buku 2023 yang sebesar Rp 33,8 triliun. Cum date dividen atau hari terakhir investor membeli saham ASII untuk mendapatkan hak pembagian dividen jatuh pada Senin (13/5/2024).

 

cnbcindonesia.com/market

Jumat, 10 Mei 2024

Pemiliki Emas Full Senyum, Harganya Seminggu Melejit 3%!

PT. Equityworld Futures Manado - Harga emas dunia pada pekan ini naik tajam setelah melewati pekan yang penuh volatilitas. Kenaikan ini merupakan yang pertama setelah penurunan dua minggu beruntun. 

Pada perdagangan hari terakhir, Jumat (10/5/2024) harga emas spot naik 0,61% menjadi US$2,360,14 per troy ons. Sementara kinerja sepekan naik 2,55%.

Lonjakan pembelian emas sebagian besar mendorong harga emas, namun data tenaga kerja minggu lalu dan data klaim pengangguran awal pada hari Kamis memberikan dukungan, kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures.

"Kekhawatiran mengenai situasi ketenagakerjaan sering kali menjadi hambatan pertama dalam perekonomian dan dapat mendorong penurunan suku bunga pertama The Fed," tambah Streible.

Departemen Tenaga Kerja merilis klaim awal tunjangan pengangguran AS meningkat 22.000 menjadi 231.000 yang untuk pekan yang berakhir pada 4 Mei 2024. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah klaim pengangguran pekan sebelumnya yakni sebesar 215.000.

Baca : Pemilik Emas Pasti Gak Pening Lagi, Harganya Terbang 1% Lebih!

Kenaikan jumlah klaim pengangguran ini turut menjaga ekspektasi terjadi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve atau The Fed minimal sekali pada tahun ini.

Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan mulai mengurangi suku bunga pada September.

Suku bunga yang lebih rendah umumnya cenderung meningkatkan daya tarik emas batangan karena tidak memberikan bunga.

Investor kini menantikan data indeks harga produsen dan indeks harga konsumen AS yang akan dirilis minggu depan, yang keduanya dapat berdampak signifikan pada harga emas dan perak.

"Jika kita mendapatkan data inflasi yang panas atau bahkan data inflasi yang hangat minggu depan, hal itu akan menghilangkan anggapan bahwa The Fed mungkin dapat menurunkan suku bunga secepatnya pada bulan September," kata Jim Wyckoff, analis pasar senior di Kitco.

Sementara itu, harga emas dalam negeri yang hampir mencapai rekor tertinggi menghambat permintaan emas fisik di India, konsumen terbesar kedua di dunia, selama festival besar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

 

 

Harga Emas Hadapi 2 Musuh Besar Pekan Ini: Masih Sanggup Terbang?

PT. Equityworld Futures Manado - Harga emas masih dalam tren penguatan. Namun, emas menghadapi tantangan berat pada pekan ini untuk terus menanjak. Tantangan datang dari data inflasi Amerika Serikat (AS) serta banyaknya pejabat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang akan menyampaikan pernyataan pekan ini.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas di pasar spot naik 0,07% menjadi US$2,361,69 per troy ons pada awal sesi perdagangan Senin (13/5/2024) pukul 06.37 WIB.

Kenaikan ini memperpanjang tren positif di mana emas juga menguat pada perdagangan Kamis dan Jumat peka lalu. Sepanjang pekan lalu harga emas bahkan terbang 2,5%.

Kendati masih dalam tre penguatan, harga emas rawan jatuh karena sejumlah faktor. Di antaranya adalah ancaman kenaikan inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed. Peminat Emas juga diproyeksi mulai berkurang.

AS akan mengumumkan data inflasi April pada Rabu (15/5/2024). Data ini menjadi yang paling ditunggu-tunggu pelaku pasar di seluruh dunia karena akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Jika inflasi AS melandai maka optimisme pemangkasan suku bunga akan semakin meningkat demikian juga sebaliknya. Dengan masih belum pastinya data inflasi inilah yang bisa membuat harga emas sangat volatile pekan ini.

Sebelum data inflasi keluar, Pada Selasa pekan depan (14/5/2024), AS akan merilis terlebih dahulu data inflasi produsen (PPI). Kemudian pada Rabu pekan depan, barulah data inflasi konsumen (CPI) dirilis.

Sejumlah pejabat The Fed akan menyampaikan pidato hingga menjadi pembicara di event pekan ini. Pernyataan mereka tentu saja ditunggu untuk menebak sinyal kebijakan The Fed ke depan. Jika sinya masih hawkish maka harga emas bisa ambruk tetapi harga emas bisa terbang jika sinyal-sinyal pemangkasan kencang.

Vice Chair Philip N. Jefferson yang akan berbicara di Cleveland Fed Conference on Central Bank Communications, Cleveland, Ohio pada hari ini, Senin (13/5/2024).

Baca : Pemilik Emas Pasti Gak Pening Lagi, Harganya Terbang 1% Lebih!

Chairman The Fed Jerome Powell juga akan menghadiri diskusi pada acara Annual General Meeting, Foreign Bankers' Association, Amsterdam pada Selasa (14/5/2024).

Gubernur The Fed Christopher J. Waller juga akan menjadi pembicara pada University of Virginia 2024 Commencement Ceremony pada Sabtu (18/5/2024).

Puncaknya adalah pidato remark dari Powell pada Georgetown Law Commencement Ceremony, Washington, D.C pada Minggu (19/5/2024).

Selain sentimen dari AS, emas juga menghadapi tantangan lain. Mengutip Reuters, Presiden General Syndicate of Owners of Trade and Jewellery Shops, Rebhi Allan, mengatakan bahwa permintaan lokal telah turun sebanyak 50% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023. Ia mengaitkan penurunan ini dengan antisipasi terhadap fluktuasi lebih lanjut dalam harga emas.

Dia menambahkan bahwa meskipun harga emas naik ke rekor tertinggi, orang tidak menjual tabungan emas mereka, karena ada beberapa ketidakpastian dan ketidakstabilan selama masa sekarang, mencatat bahwa emas secara tradisional dianggap sebagai investasi yang aman dan penyimpanan nilai yang handal.

Di tengah pesimisme, Allan memperkirakan lonjakan permintaan emas dan perhiasan bisa kembali naik menjelang musim panas, periode yang ditandai dengan kedatangan ekspatriat dan dimulainya musim pernikahan.

Elias Akram, seorang pembuat perhiasan lokal, mengatakan kepada The Jordan Times bahwa permintaan puncak biasanya berlangsung dari akhir Mei hingga akhir September, menambahkan, "Harga emas tetap kuat dan diperkirakan akan mempertahankan posisi kuat mereka."

Dia mengatakan, "Dengan meningkatnya ketegangan di wilayah ini, situasinya sulit diprediksi, namun para pelaku sektor berharap untuk mengalami bisnis yang lebih baik pada akhir bulan ini."

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

research@cnbcindonesia.com

 

 

 

Senin, 06 Mei 2024

Ini Alasan Warren Buffett Lepas 13% Saham Apple

PT. Equityworld Futures Manado - Warren Buffett melalui perusahaannya Berkshire Hathaway mengurangi porsi kepemilikannya di saham Apple pada kuartal pertama 2024. Ia pun menyampaikan alasannya.

Dalam laporan pendapatan kuartal pertama yang dirilis hari Sabtu, (4/5/2024), Berkshire Hathaway melaporkan bahwa kepemilikan sahamnya di Apple bernilai $135,4 miliar, menyiratkan sekitar 790 juta saham. Itu menandai penurunan sekitar 13% saham. Namun, Apple masih menjadi perusahaan terbesar di Berkshire pada akhir kuartal ini.

Ini adalah kuartal kedua berturut-turut konglomerat yang berbasis di Omaha ini memangkas kepemilikan sahamnya di perusahaan pembuat iPhone tersebut. Berkshire menjual sekitar 10 juta saham Apple (hanya 1% dari sahamnya yang sangat besar) pada kuartal keempat.

Pengajuan ini, ketika memperhitungkan perubahan harga saham Apple, berarti Berkshire menjual sekitar 116 juta saham.
Buffett, ketika menjawab pertanyaan pemegang saham pada pertemuan tahunan Berkshire di Omaha, menyatakan bahwa penjualan tersebut adalah untuk alasan pajak menyusul keuntungan yang cukup besar.

Baca : Pemegang Emas Harus Siap Sport Jantung, Ada Kabar Penting Pekan Depan

Dia juga menyiratkan bahwa penjualan tersebut mungkin terkait dengan keinginannya untuk menghindari tagihan pajak yang lebih tinggi jika tarif naik untuk mendanai defisit fiskal AS yang membengkak.

"Saya tidak merasa terganggu sedikit pun untuk menulis cek itu dan saya benar-benar berharap dengan semua yang telah dilakukan Amerika untuk Anda semua, tidak akan mengganggu Anda jika kami melakukannya dan jika saya melakukannya pada tingkat 21% kali ini. tahun ini dan kami akan melakukannya dengan persentase yang sedikit lebih tinggi di kemudian hari, saya rasa Anda tidak akan keberatan dengan kenyataan bahwa kami menjual sedikit Apple tahun ini," kata Buffett pada pertemuan tersebut.

Buffett menjadi penggemar berat Apple setelah salah satu manajer investasinya Ted Weschler atau Todd Combs meyakinkannya untuk membeli saham tersebut beberapa tahun lalu. Buffett bahkan menyebut raksasa teknologi ini sebagai bisnis terpenting kedua setelah kelompok perusahaan asuransi Berkshire.

Banyak yang berspekulasi bahwa ikon investasi berusia 93 tahun itu mengurangi saham favoritnya karena masalah penilaian. Saham Apple naik sebesar 48% pada tahun 2023 karena saham teknologi megacap memimpin reli pasar.

Pada puncaknya, Apple menggelembungkan portofolio ekuitas Berkshire dan menguasai 50% sahamnya. Saham tersebut diperdagangkan dengan pendapatan lebih dari 27 kali lipat.

Namun Buffett pada pertemuan tersebut terus memuji Apple, dengan mengatakan "sangat mungkin" bahwa Apple akan tetap menjadi perusahaan induk terbesar di Berkshire pada akhir tahun 2024.

Saham pembuat iPhone ini mendapat peningkatan harga saham besar dalam seminggu terakhir setelah perusahaan tersebut mengumumkan bahwa dewan direksi telah mengizinkan pembelian kembali saham senilai $110 miliar, yang merupakan pembelian kembali terbesar dalam sejarah perusahaan.

Namun, Apple mencatat penurunan penjualan secara keseluruhan dan penjualan iPhone. Sahamnya telah turun lebih dari 4% sepanjang tahun ini di tengah kekhawatiran tentang bagaimana hal tersebut akan menghidupkan kembali pertumbuhan. Namun, dengan penjualan tersebut, Berkshire masih menjadi pemegang saham terbesar Apple.

 

cnbcindonesia.com/market

Harta Prajogo Nyaris Rp1.000 T, Jadi Orang Terkaya ke-27 di Dunia

PT. Equityworld Futures Manado - Pemilik Grup Barito Pacific, Prajogo Pangestu berhasil merajai daftar orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan hampir kenyentuh Rp1.000 triliun. Selain itu, Prajogo juga menduduki posisi ke-27 sebagai orang terkaya di dunia.

Mengutip dari laporan Forbes, "Raja" petrokimia dan energi berusia 79 tahun ini memiliki total kekayaan bersih sebesar US$60,8 miliar atau sekitar Rp973,95 triliun per hari ini, Senin, (6/5/2024).

Kekayaan tersebut melonjak drastis dibanding tahun sebelumnya. Kekayaan Prajogo Pangestu telah naik 1.047% jika dibanding dengan akhir tahun 2023 yang mencatatkan nominal sebesar US$5,3 miliar.

Peningkatan kekayaan Prajogo seiring dengan peningkatan harga saham-sahamnya. Misalnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Per perdagangan hari ini, Senin, (6/5/2024) pukul 9.57 WIB, BREN menduduku level Rp9,250 per saham. Harga BREN telah meningkat 115.03% selama 6 bulan ke belakang.

Sementara CUAN selama periode 6 bulan telah menyentuh harga Rp7.050 per lembar. Angka ini telah naik 17,01%.

Di sisi lain, BRPT menorehkan kinerja negatif pada periode 6 bulan ke belakang. Ia berada di level Rp990, atau turun -7.91%. Namun, bila dilihat dalam periode setahun ke belakang, BRPT telah naik 21.34% secara year on year (YoY).

 

 

cnbcindonesia.com/market

Simak Pergerakan 3 Saham yang Berpotensi Cuan Hari Ini

PT. Equityworld Futures Manado - Setelah sepanjang pekan lalu "berdarah-darah", Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat (3/5/2024). Indeks ditutup menguat 0,24% ke posisi 7.134,72.

Sepanjang sepekan terakhir, IHSG telah terkoreksi 0,29%. Bahkan dalam sebulan terakhir, indeks tercatat merosot 3,14%.

Sementara itu, investor asing tercatat melakukan penjualan jumbo sepanjang pekan lalu, yakni sebesar Rp5,73 triliun di seluruh pasar. Rinciannya, sebesar Rp5,33 triliun di pasar reguler dan sebesar Rp396,04 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

Baca : Pemegang Emas Harus Siap Sport Jantung, Ada Kabar Penting Pekan Depan

Berikut adalah rekomendasi tiga saham yang pergerakannya patut diperhatikan pada perdagangan hari ini, Senin 6 Mei 2024, dihimpun oleh InvestasiKu.

Bank Syariah Indonesia (BRIS)

BRIS sedang membentuk pola bullish harami dengan potensi penembusan high dari mother candle dan melanjutkan kenaikan ke area classic resistance dengan dukungan momentum RSI yang menguat. BRIS saat ini memiliki rasio PBV sebesar 3x yang mengindikasikan harga yang overvalue, karena berada di atas Mean PB standar deviasi selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 2.2x.

Buy: 2630
Take Profit: 2800
Stop Loss: 2510

Adi Sarana Armada (ASSA)

ASSA telah valid menembus resistance dari pola descending broadening wedge dengan potensi penguatan dan didukung oleh kenaikan volume serta penguatan dari stochastic. ASSA saat ini memiliki rasio PER sebesar 23.5x yang mengindikasikan harga yang undervalue, karena berada di bawah area Mean PE standar deviasi selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 40.2.

Buy: 785
Take Profit: 840
Stop Loss: 755


Bukit Asam (PTBA)

PTBA saat ini telah berhasil melakukan false break pada area support uptrend channel dan berpotensi menguat ke area resistance yang lebih tinggi didukung oleh kenaikan volume perdagangan dan momentum stochastic yang mengarah ke atas pada area netral. PTBA saat ini memiliki rasio PER sebesar 5.8x yang mengindikasikan harga yang undervalue, karena berada sedikit di bawah Mean PE standar deviasi selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 6.4x.

Buy: 2920
Take Profit: 3070
Stop Loss: 2850

 

 

cnbcindonesia.com/market/

IHSG Balik Menghijau Lagi, 5 Saham Big Cap Ini Jadi Penopangnya

PT. Equityworld Futures Manado - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau cenderung menguat pada perdagangan sesi I Senin (6/5/2024), meski sempat terkoreksi sejenak beberapa menit setelah sesi I dibuka.

Per pukul 10:10 WIB, IHSG menguat 0,17% ke posisi 7.147,12. IHSG sempat terkoreksi sejenak sekitar pukul 09:30 WIB. Meski begitu, IHSG masih cenderung bertahan di level psikologis 7.100 pada sesi I hari ini.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 3,7 triliun dengan melibatkan 7 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 386.093 kali.

Secara sektoral, sektor properti menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 2,02%.

Beberapa saham menjadi penopang IHSG, sehingga indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut kembali ke zona hijau. Berikut daftar sahamnya.

Saham perbankan Himbara PT Bank Mandiri Tbk (BBCA) menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 13,7 indeks poin.

IHSG cenderung bergerak volatil di awal sesi I hari ini, karena investor sedang menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2024.

Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2024 diperkirakan hanya akan naik tipis meskipun ada momen Ramadan, kampanye, hingga pemilihan umum (pemilu).

Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menopang laju ekonomi Januari-Maret 2024 meskipun melandai. Belanja pemerintah juga diproyeksi akan mendongkrak ekonomi kuartal I-2024 sejalan dengan lonjakan belanja bantuan sosial dan belanja pegawai. Sebaliknya, investasi dan ekspor akan menekan pertumbuhan.

Baca : Pemegang Emas Harus Siap Sport Jantung, Ada Kabar Penting Pekan Depan

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,09% (year-on-year/yoy) dan terkontraksi 0,86% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq) pada kuartal I-2024.

Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 (yoy) dan 0,45% (qtq) pada kuartal IV-2023. Pada kuartal I-2023, ekonomi Indonesia juga tumbuh 5,04% (yoy).

Selain itu, optimisme pasar kembali muncul di tengah membaiknya sentimen pasar global. Hal ini terjadi setelah indeks dolar dan imbal hasil (yield) Treasury Amerika Serikat (AS) merosot karena adanya harapan baru untuk penurunan suku bunga tahun ini.

Harapan tersebut muncul setelah data menunjukkan perekonomian AS pada lapangan kerja jauh lebih lambat pada April, tercatat 175.000 pekerjaan yang ditambahkan pada April, lebih rendah dibandingkan dengan 315.000 pada Maret.

Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 3,9% pada April, naik dari 3,8% pada bulan sebelumnya, namun ini masih merupakan bulan ke-27 berturut-turut tingkat pengangguran berada di bawah 4%. Pertumbuhan pendapatan rata-rata per jam yang penting melambat menjadi 0,2% pada bulan tersebut.

Selain itu, Non-Farm Payroll (NFP) periode April 2024 terpantau turun ke 167.000, lebih dalam dari perkiraan pasar sebesar 190.000 dan bulan sebelumnya sebesar 243.000 pekerjaan.

Hal tersebut menjadi acuan bagi para pelaku pasar bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) harus mengambil kebijakan dalam menurunkan suku bunganya, yang diprediksi pasar akan terjadi pada pertemuan September.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

market@cnbcindonesia.com

 

Kamis, 02 Mei 2024

IHSG Ambruk 1% Lebih, Ternyata Ini Biang Keladinya

PT. Equityworld Futures Manado - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan awal Mei 2024 ini ditutup ambruk 1,63%.

Sentimen 'sell in May and go away' tampaknya masih menjadi momok bagi para investor saham.

Dari data penutupan perdagangan saham sesi I, Kamis (2/5/2024), sebanyak 392 saham bergerak turun, 174 saham naik, dan 191 saham bergerak stagnan. Ada 11,453 miliar lembar saham yang ditransaksikan, dengan nilai transaksi Rp 8,355 triliun, dan frekuensi 755.411 kali.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab keruntuhan pasar saham RI hari ini. Di antaranya, sentimen kebijakan bank sentral The Fed, beberapa data ekonomi dalam negeri.

"Isu krusial saat ini The Fed," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/5).

Seperti diketahui, Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% untuk keenam kalinya secara beruntun pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (2/5/2024).

The Fed menegaskan tidak akan ada kenaikan suku bunga pada tahun ini. Namun, mereka juga mengatakan belum ada kemajuan berarti dalam penurunan inflasi sehingga akan menunggu lebih banyak data pendukung sebelum memangkas suku bunga acuan.

The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, dan Mei 2024.

"Inflasi sudah melandai dalam setahun terakhir tetapi tetap tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, hanya ada sedikit kemajuan dalam pergerakan inflasi menuju target sasaran 2%," tulis The Fed dalam pernyataan resminya.

Menurutnya, isu The Fed memberikan respon yang negatif bagi para investor terhadap emiten-emiten dalam negeri."Pendorong IHSG terkait dengan eksternal terkait The Fed dynamic. Jadi ini memberikan sentimen negatif utk perusahaan," sebutnya.

Sementara dari sisi domestik dipengaruhi oleh angka inflasi Indonesia yang masih berada di bawah ekspektasi. Namin, angka inflasi masih cenderung stabil dan terkendali.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2024 mencapai 0,25% secara bulanan (month to month). Sementara itu, inflasi tahunannya mencapai 3,0% (yoy) dan secara tahun kalender sebesar 1,19% (ytd). Tingkat inflasi bulanan pada April ini lebih rendah dari bulan sebelumnya dan dari posisi April 2023.

Adapun, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan inflasi April 2024 akan mencapai 0,33% dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).

Hasil polling juga memperkirakan inflasi (year on year/yoy) akan berada di angka 3,08% pada April. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Maret 2024.

Sebagai catatan, inflasi pada Maret 2024 tercatat 3,05% (yoy) dan 0,52% (mtm) sementara inflasi inti mencapai 1,77% (yoy).

Sementara Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus merevisi target IHSG hingga akhir tahun ini. Sehingga daya tarik berinvestasi di asset aset berisiko mungkin akan berkurang, dan berpindah ke aset yang lebih aman seperti obligasi, deposito ataupun emas.

"Kami masih melihat IHSG akan berada di 7.350 - 7.460 di akhir tahun. Potensi dibawah 7.000 ada, tapi mungkin kecil. Tapi apapun itu semua bisa terjadi," pungkasnya.

 

cnbcindonesia.com/market

Alert! IHSG Ambruk Semakin Dalam, Sudah 2% Lebih

PT. Equityworld Futures Manado - Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin dalam pada perdagangan sesi II Kamis (2/5/2024), setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) kembali menahan suku bunga acuannya dan belum akan memangkasnya dalam waktu dekat.

Per pukul 14:48 WIB, IHSG ambruk 2,05% ke posisi 7.085,744. IHSG pun terkoreksi ke level psikilogis 7.000 di sesi II hari ini.

Nilai transaksi indeks pada sesi II hari ini sudah mencapai sekitar Rp 12 triliun dengan volume transaksi mencapai 15 miliar lembar saham dan sudah ditransaksikan sebanyak 1 juta kali.

IHSG kembali merana hingga ambruk lebih dari 2% disinyalir karena merespon keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang kembali menahan suku bunga pada semalam atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Baca : Harga Emas Terbang 1% Lebih, Pemiliknya Bisa Pesta Lagi

Suku bunga The Fed bertahan di level tinggi, 5,25-5,50% untuk keenam kalinya secara beruntun.

The Fed menegaskan tidak akan ada kenaikan suku bunga pada tahun ini. Namun, mereka juga mengatakan belum ada kemajuan berarti dalam penurunan inflasi sehingga akan menunggu lebih banyak data pendukung sebelum memangkas suku bunga acuan.

The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, dan Mei 2024.

Akibat hal ini, pasar melihat prospek penurunan suku bunga ini semakin jauh dari perkiraan awal. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap aset berisiko, sehingga investor cenderung beralih ke aset yang lebih konservatif atau aset safe haven.

CNBC INDONESIA RESEARCH