Rabu, 31 Juli 2024

The Fed Beri Sinyal Pangkas Suku Bunga, Akankah Rupiah Menguat?

 PT. Equityworld Futures Manado - Pergerakan rupiah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Selasa (1/8/2024) akan dipengaruhi oleh hasil rapat Federal Open Meeting Committee (FOMC) bank sentral AS (The Fed) semalam.

Melansir Refinitiv, nilai tukar rupiah kemarin, Rabu (31/7/2024) di tutup di angka Rp16.255/US$, menguat 0,25% dalam sehari dan berbanding terbalik dengan pelemahan yang terjadi sehari sebelumnya sebesar 0,12%.

Semalam, The Fed memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50%. Namun, The Fed memberi sinyal kuat akan memangkas suku bunga pada pertemuan September mendatang.

The Fed kembali menahan suku bunga selama delapan pertemuan beruntun setelah berakhirnya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (1/8/2024).

The Fed mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, Mei 2024, Juni 2024, dan Agustus 2024.

Berbeda dengan rapat FOMC sebelumnya, The Fed pada rapat bulan ini lebih memberi sinyal jelas soal pemangkasan suku bunga mulai September mendatang. Dalam pernyataannya, The Fed menjelaskan jika inflasi kini sudah mengarah kepada target sasaran mereka di kisaran 2%.

"Dalam beberapa bulan terakhir ada kemajuan lebih lanjut menuju target inflasi 2%. Jika syarat tersebut terpenuhi, kebijakan pemangkasan suku bunga bisa menjadi opsi pada pertemuan berikutnya di September," kata ChairmanThe Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai rapat FOMC, dikutip dari CNBC International.

Pemangkasan suku bunga diperkirakan sebesar 25 bps. Powell menegaskan pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps belum ada dalam bayangan The Fed.
"Saya tidak ingin menjelaskan terlalu spesifik soal apa yang akan kami lakukan, tetapi itu (pemangkasan 50 bps) bukan sesuatu yang kami pertimbangkan saat ini," katanya.

Powell mengatakan kondisi ekonomi AS sudah berbeda jauh dengan setahun yang lalu. Inflasi kini sudah melandai sementara tingkat pengangguran sudah meningkat. Klaim tunjangan pengangguran juga menunjukkan warga AS tetap menganggur lebih lama.

Sebagai catatan, inflasi AS mencapai 3% (year on year/yoy) pada Juli 2024, jauh lebih rendah dibandingkan Agustus 2023 yang masih bercokol di angka 3,7% (yoy).

Tingkat pengangguran mencapai 4,1% pada Juni 2024, meningkat dibandingkan 3,8% pada Agustus 2023.

"Data inflasi pada kuartal II (2024) menambah keyakinan kami dan data yang lebih baik baik lakan semakin memperkuat keyakinan tersebut," kata Powell.

Kendati inflasi dan tingkat pengangguran sudah bergerak ke arah yang diinginkan The Fed, Powell mengingatkan masih ada risiko yang mengancam.

"Komite akan dengan hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko," ujarnya.

Berikutnya hari ini dari domestik akan ada rilis data inflasi periode Juli 2024. Sebelumnya, pada Juni 2024 terjadi inflasi (yoy) sebesar 2,51%, angka tersebut turun dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,84% (yoy). Inflasi yang terjaga ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah. Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, posisi rupiah kini sedang menguji garis rata-rata selama 200 jam atau Moving Average/MA 200. Jika ini ditembus ke bawah maka ada potensi penguatan lanjutan ke Rp16.210/US$ yang diambil dari garis horizontal low candle intraday 24 Juli 2024.

Sementara itu, untuk resistance atau pelemahan yang perlu diantisipasi berada di posisi Rp16.320/US$ yang didapatkan dari garis horizontal high candle intraday 30 Juli 2024.

Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

Berkat Sabda Mr. Powell, Harga Emas Terbang Hampir 2%!

 PT. Equityworld Futures Manado - Harga emas melanjutkan kenaikannya pada hari Rabu setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan bahwa penurunan suku bunga mungkin akan dilakukan pada awal September jika inflasi tetap sesuai dengan ekspektasi.

Berdasarkan Refiniitv harga emas di pasar spot pada perdagangan kemarin (31/7/2024) tercatat menguat 1,65% ke US$2.448,09 per troy ons.

Sementara pada perdagangan hari ini, Kamis (1/8/2024) harga emas dunia melemah tipis 0,12% ke US$2.444,93 per troy ons.

 

Powell, berbicara pada konferensi pers setelah keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah, memicu harapan investor terhadap penurunan suku bunga di bulan September dengan menyatakan bahwa para pengambil kebijakan semakin yakin bahwa inflasi terus mendekati target 2%.

"Emas dan perak menguat karena komentar Ketua Powell mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan September," kata Tai Wong, pedagang logam independen yang berbasis di New York.

"Namun, dia secara efektif menutup kemungkinan pergerakan 50bps. Masih harus dilihat apakah emas dapat mencapai level tertinggi baru sepanjang masa mengingat The Fed baru saja memenuhi ekspektasi yang diperluas baru-baru ini."

Dukungan terhadap aset safe-haven menguat di tengah ancaman eskalasi konflik di Timur Tengah setelah pemimpin Hamas Ismail Haniyeh dibunuh pada Rabu pagi di Iran sehingga memicu wilayah yang sudah terguncang oleh perang di Gaza dan konflik yang semakin mendalam di Lebanon.

Pemotongan suku bunga The Fed ditambah dengan risiko geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga emas hingga $2.700 per ounce, kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

Selasa, 30 Juli 2024

Jelang Rapat The Fed, Dolar Rawan Sentuh Rp 16.300 Hari Ini

 PT. Equityworld Futures Manado - Rupiah semakin melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), mendekati level Rp16.300/US$ di tengah penantian kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,12% di angka Rp16.295/US$ pada perdagangan kemarin, Selasa (30/7/2024).

Investor menantikan hasil rapat pertemuan The Fed yang hasilnya akan diumumkan Kamis (1/8/2024) dini hari waktu Indonesia.

Investor berharap Ketua Jerome Powell akan memberikan sinyal tentang waktu dan jumlah pemotongan suku bunga yang diharapkan dalam beberapa bulan mendatang.

"Inflasi cenderung menurun, mendukung pemotongan suku bunga Federal Reserve," kata Seema Shah, kepala ahli strategi global di Principal Asset Management. "Hal ini, ditambah dengan prospek ekonomi yang masih kuat dan pendapatan perusahaan yang kuat, seharusnya memperkuat aset berisiko dan memimpin pada perluasan pengembalian di luar hanya teknologi."

Sejauh ini, pasar masih optimis bahwa pemangkasan suku bunga The Fed dapat dimulai pada pertemuan September. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, sebanyak 89,6% pelaku pasar yakin The Fed akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada September mendatang.

Harapan ini kian kuat kala lowongan pekerjaan di AS turun sedikit pada bulan Juni dan data untuk bulan sebelumnya direvisi lebih tinggi, menunjukkan pasar tenaga kerja terus melambat secara bertahap dan tidak dalam bahaya pelemahan yang cepat.

Lowongan kerja, yang mengukur permintaan tenaga kerja, telah turun 46.000 menjadi 8,184 juta pada hari terakhir bulan Juni, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja dalam laporan Survei Pembukaan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja, atau JOLTS.

 

Data bulan Mei direvisi lebih tinggi untuk menunjukkan 8,230 juta posisi yang tidak terisi dibandingkan dengan yang dilaporkan sebelumnya 8,140 juta. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan 8,0 juta lowongan pekerjaan di bulan Juni.

Lowongan pekerjaan terus menurun sejak mencapai rekor 12,182 juta pada bulan Maret 2022 karena permintaan yang moderat sebagai respons terhadap kenaikan suku bunga agresif The Fed. Angka tersebut turun sebanyak 941.000 sepanjang tahun.

Jika The Fed benar-benar akan memangkas suku bunganya pada September mendatang, maka hal ini akan membuat bank sentral lainnya juga berpotensi lebih bersikap dovish, termasuk Bank Indonesia (BI) yang sebelumnya sempat mengindikasikan pemangkasan jika rupiah sudah lebih stabil dan The Fed semakin dovish.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, rupiah masih kokoh dalam tren penurunan. Paling dekat potensi pelemahan bisa berlanjut menembus level psikologis Rp16.300/US$, sekaligus berdekatan dengan garis horizontal dari high candle intraday kemarin (30/7/2024) di Rp16.320/US$.

Sementara itu, jika ada pembalikan arah menguat, support paling dekat yang potensi di uji di posisi Rp16.280/US$, posisi ini bertepatan dengan garis rata-rata selama 50 jam atau Moving Average/MA 50. 

 

 

CNBC INDONESIA RESEARCH