
[5 Maret 2026] | Sumber: News Maker 23 - Indonesia News Portal for Traders
Halo Oil Traders! Harga minyak mentah Brent terus unjuk gigi pada perdagangan sesi Asia hari ini (Kamis, 5/3), bertengger kokoh di kisaran $82,55 per barel. Reli tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini menjadi bukti nyata bahwa pasar masih mematok "premi risiko geopolitik" yang tebal akibat memanasnya konflik AS-Israel vs Iran.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada satu titik krusial: Selat Hormuz.
π’ Krisis Hormuz & Ancaman Tight Supply
Gangguan di Selat Hormuz—titik sempit (chokepoint) yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—menjadi isu fundamental terbesar saat ini.
Laporan terbaru dari Reuters menyebutkan bahwa gangguan pengapalan semakin terasa.
Irak, salah satu produsen raksasa OPEC, bahkan terpaksa memangkas output produksinya akibat hambatan ekspor dan keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Kondisi ini membuat pasar mulai memperhitungkan risiko pengetatan pasokan (tight supply) yang bisa terjadi dalam waktu dekat.
πΊπΈ Janji Washington vs Stok AS yang Melimpah
Upaya stabilisasi dari Washington sejatinya sudah mulai digulirkan. Rencana dukungan asuransi dan opsi pengawalan kapal dinilai cukup membantu menahan lonjakan harga yang lebih ekstrem. Namun, pelaku pasar tidak mudah percaya begitu saja; mereka menuntut bukti implementasi nyata bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar sudah kembali normal.
Di sisi lain, ada faktor penahan harga dari daratan Amerika Serikat. Data persediaan minyak mentah AS terbaru secara mengejutkan menunjukkan peningkatan stok di atas ekspektasi. Secara teori, data ini seharusnya menekan harga minyak turun. Namun, di tengah situasi krisis saat ini, data stok AS seolah "kalah suara" oleh tingginya risiko pasokan dari Timur Tengah. Geopolitik tetap menjadi "raja" penentu arah harga intraday.
π Proyeksi: Bullish, Volatil, dan Rawan Meledak
Selama jalur Hormuz masih terganggu, bias pergerakan Brent dipastikan tetap bullish namun sangat volatil.
Harga akan jauh lebih sensitif dan mudah meledak naik jika terpantik headline negatif (seperti serangan baru, penutupan rute, atau penghentian produksi).
Sebaliknya, koreksi turun yang bermakna baru bisa terjadi jika ada bukti konkret bahwa aktivitas pengapalan telah pulih.
Raksasa perbankan Goldman Sachs bahkan mewanti-wanti bahwa risiko harga masih condong ke atas apabila gangguan di Selat Hormuz ini berkepanjangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar