
Harga minyak dunia menguat tipis pada Kamis (14/8) di tengah kewaspadaan investor menjelang KTT AS–Rusia terkait Ukraina pada Jumat. Pertemuan tersebut diperkirakan dapat memengaruhi kebijakan sanksi terhadap minyak mentah Rusia, termasuk potensi pengetatan tindakan terhadap pembeli utama seperti Tiongkok dan India. Namun, prospek fundamental yang lemah membatasi ruang kenaikan harga.
Kontrak Brent berjangka naik 0,37% menjadi $65,87 per barel pada pukul 03.56 GMT, sementara WTI AS menguat 0,34% ke $62,85 per barel. Sebelumnya, kedua benchmark ini sempat menyentuh level terendah dua bulan pada Rabu, tertekan oleh proyeksi pasokan yang lebih longgar dari pemerintah AS dan Badan Energi Internasional (IEA).
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengancam akan memberi “konsekuensi berat” jika Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menyetujui perdamaian di Ukraina. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah tarif sekunder terhadap pembeli minyak Rusia, khususnya Tiongkok dan India, jika konflik berlanjut.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada September turut menopang harga. Pasar menilai peluang pemangkasan sebesar 25 basis poin mencapai 99,9% berdasarkan data CME FedWatch, dengan sebagian analis bahkan memproyeksikan pemangkasan agresif 50 basis poin akibat data ketenagakerjaan yang lemah. Suku bunga yang lebih rendah berpotensi meningkatkan permintaan energi.
Meski demikian, kenaikan harga minyak dibatasi oleh laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) yang mencatat kenaikan stok minyak mentah sebesar 3 juta barel pada pekan yang berakhir 8 Agustus. Selain itu, IEA memperkirakan pasokan global 2025–2026 akan tumbuh lebih cepat dari perkiraan, seiring peningkatan produksi dari anggota OPEC+ dan negara produsen di luar kelompok tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar