
[23 Desember 2025] | Sumber: News Maker 23 - Indonesia News Portal for Traders
Halo Oil Traders! Setelah sempat mencatatkan kenaikan tajam pada sesi sebelumnya, harga minyak mentah pagi ini (Selasa, sesi Asia) mengalami sedikit penurunan atau koreksi tipis.
Perdagangan mulai terasa lebih sepi menjelang liburan akhir tahun, namun di balik layar, pasar sedang "ditarik-ulur" oleh dua kekuatan besar: Risiko Geopolitik vs Ketakutan Permintaan.
📉 Update Harga Terkini
Meski konflik global memanas, harga minyak justru merosot tipis pagi ini:
Brent (Februari): Turun 0,1% menjadi $61,98 per barel.
WTI (AS): Merosot 0,2% menjadi $57,90 per barel.
Penurunan ini terjadi karena bayang-bayang penurunan permintaan global dan potensi kelebihan pasokan (oversupply) masih menjadi "hantu" utama yang menekan harga minyak sepanjang tahun ini.
🌍 Tiga Titik Panas Geopolitik (Bullish Factors)
Walaupun harga terkoreksi pagi ini, Premium Risiko masih sangat tinggi akibat ketegangan di tiga wilayah utama:
1. 🇻🇪 AS vs. Venezuela: Blokade Makin Ketat
Presiden Donald Trump tidak main-main. Ia memperketat blokade terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang terkena sanksi.
Poin Penting: Trump mengonfirmasi bahwa AS akan menahan minyak yang disita dari Venezuela, bahkan mungkin menjualnya atau menggunakannya untuk cadangan strategis AS. Ini pukulan telak bagi Venezuela (produsen ke-12 terbesar dunia) dan China sebagai pembeli utamanya.
2. 🇷🇺 Rusia vs. Ukraina: Infrastruktur Diserang
Perdamaian tampak makin jauh. Kyiv terus melancarkan serangan ke terminal dan pipa minyak Rusia. Hal ini mengancam pengiriman minyak Rusia yang sebelumnya sudah terhambat sanksi, membuat pasar waswas akan gangguan pasokan fisik.
3. 🇮🇱 Timur Tengah: Israel & Iran Kembali Tegang
Ketegangan lama bersemi kembali. Laporan bahwa Israel merencanakan serangan baru terhadap Iran, ditambah tes rudal oleh Teheran, menambah ketidakpastian di wilayah penghasil minyak terbesar ini.
⚖️ Kesimpulan: Pasar di Simpang Jalan
Pasar minyak saat ini berada dalam kondisi Volatilitas Tinggi.
Di satu sisi, ketegangan geopolitik yang berlarut-larut (Venezuela, Rusia, Timteng) seharusnya melambungkan harga. Namun di sisi lain, fundamental pasar yang lemah (permintaan lesu) menahan kenaikan tersebut. Investor kini terus memantau perkembangan berita global untuk menentukan arah harga selanjutnya di penghujung tahun 2025.
Apakah ketegangan geopolitik ini akan memicu reli minyak ke $70, atau justru permintaan yang lesu akan menyeret harga kembali jatuh? Bagikan prediksi Anda di kolom komentar!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar