
19 November 2025 |
Harga emas masih bertahan nyaman di atas US$4.000 per troy ounce, dengan pergerakan jangka pendek masih bergantung pada tiga katalis utama: risalah rapat The Fed, komentar pejabat bank sentral AS, serta rilis data tenaga kerja yang tertunda akibat penutupan pemerintah. Ketiga faktor ini akan memberikan gambaran baru mengenai peluang perubahan suku bunga dalam waktu dekat.
Namun, sorotan menarik justru datang dari proyeksi jangka menengah. Survei Bank of America yang melibatkan sekitar 170 manajer investasi global menempatkan emas sebagai aset dengan potensi imbal hasil terbaik kedua pada 2026, hanya kalah dari yen. Meski tahun ini emas sudah naik sekitar 55% dan sempat mencetak rekor, manajer dana masih melihat ruang kenaikan tambahan. Ini menunjukkan bahwa dukungan untuk tren bullish emas belum habis.
Ekspektasi tersebut didorong oleh ketidakpastian ekonomi global, tingginya volatilitas pasar, serta peran emas sebagai aset lindung nilai. Faktor lain yang akan sangat menentukan adalah siapa kandidat Ketua The Fed pilihan Donald Trump. Trump telah memberi sinyal bahwa ia menginginkan ketua Fed yang lebih condong pada kebijakan suku bunga rendah. Dengan dua kali pemangkasan tahun ini dan kemungkinan satu kali lagi bulan depan, pasar mulai memperhitungkan ruang pelonggaran tambahan di 2026.
Jika kebijakan suku bunga memang lebih longgar dan pembelian emas oleh bank sentral terus meningkat, kombinasi ini bisa menjadi katalis kuat yang menjaga tren bullish emas. Ke depan, investor akan fokus pada tiga hal penting: pandangan manajer dana global, arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan baru, dan strategi pembelian emas oleh bank sentral dunia. Tiga faktor inilah yang akan menentukan apakah emas benar-benar akan menjadi salah satu aset “bintang” pada 2026.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar