PT Equityworld Futures Manado - Harga emas kini tengah berada di area konsolidasi dan sedang menentukan arah untuk melanjutkan kenaikan atau bahkan penurunan. Data inflasi Amerika Serikat (AS) pekan ini serta keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pekan depan menjadi penentu arah perginya emas.
Pada perdagangan hari ini Senin (10/3/2025) hingga pukul 06.16 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,1% di posisi US$2.913,77 per troy ons.
Sementara pada perdagangan sebelumnya Jumat (7/3/2025), harga emas dunia di pasar spot naik tipis 0,03% di level US$2.910,79 per troy ons.
Harga emas kini tengah berada di area konsolidasi alias sideaway karena arus masuk safe haven dan laporan lapangan kerja AS yang mengungkapkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan pada Februari, menunjukkan bahwa The Federal Reserve (The Fed) berada di jalur yang tepat untuk memangkas suku bunga tahun ini.
Jatuhnya indeks dolar AS juga menjadi harapan untuk kenaikan emas. Hingga perdagangan pagi hari ini pukul 05.42 WIB, indeks dolar AS telah merosot 0,09% di level 103,75. Posisi tersebut merupakan kejatuhan indeks dolar AS ke level terendah dalam empat bulan dan menuju penurunan mingguan tertajam sejak November 2022.
Pembelian emas dikonversi ke dolar sehingga melemahnyadolar AS membuat emas menjadi makin murah untuk dibeli sehingga pembelian meningkat.
"Angka tenaga kerja yang lebih lemah dari yang diharapkan memberikan sedikit dorongan pada emas, selain itu dolar yang lebih lemah untuk minggu kemarin pun dapat membantu kenaikan harga emas," ujar Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures,kepada Reuters.
Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan ada tambahan 151.000 pekerjaan pada Februari 2025, dibandingkan dengan kenaikan 160.000 yang diharapkan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters, sedangkan tingkat pengangguran berada pada 4,1% dibandingkan dengan ekspektasi 4%.
Pasar saat ini emas berada dalam fase konsolidasi, dengan minat safe haven memberikan dukungan berkelanjutan, menurut Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.
Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya mengatakan The Federal Reserve akan mengambil pendekatan hati-hati terhadap pelonggaran kebijakan moneter, menambahkan bahwa ekonomi saat ini terus berada di tempat yang baik.
Meskipun menjadi nilai lindung inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pasar memperkirakan penurunan suku bunga The Fed sebesar 76 bps pada akhir tahun, dimulai pada bulan Juni.
China melanjutkan pembelian emasnya untuk bulan keempat berturut-turut pada bulan Februari.
Emas Hadapi Pekan Genting
Emas akan menghadapi
banyak rintangan untuk menguat pekan ini. Pasalnya ada begitu banyak
data ekonomi AS yang akan keluar pekan ini. Data-data ini bisa menjadi
pertimbangan The Fed dalam menentukan suku bunga ke depan sehingga
berdampak ke emas. Di antaranya adalah:
Lowongan JOLTS AS
Pada Selasa (11/3/2025), Biro Statistik Tenaga
Kerja AS akan melaporkan Jumlah lowongan pekerjaan JOLTS periode Januari
2025. Sebelumnya, jumlah lowongan pekerjaan menurun menjadi 7,6 juta
pada hari kerja terakhir bulan Desember, Biro Statistik Tenaga Kerja AS
melaporkan.
Selama bulan tersebut, perekrutan dan total pemutusan
hubungan kerja sedikit berubah pada masing-masing 5,5 juta dan 5,3
juta. Dalam pemutusan hubungan kerja, berhenti (3,2 juta) dan PHK dan
pemecatan (1,8 juta) sedikit berubah. Rilis ini mencakup estimasi jumlah
dan tingkat lowongan pekerjaan, perekrutan, dan pemutusan hubungan
kerja untuk seluruh sektor nonpertanian, menurut industri, dan menurut
kelas ukuran perusahaan.
Inflasi AS
Masih di hari yang sama
Rabu (12/3/2025), terdapat data inflasi AS periode Februari 2025.
Sebelumnya, tingkat inflasi tahunan di AS naik tipis menjadi 3% pada
Januari 2025, dibandingkan dengan 2,9% pada Desember 2024, dan di atas
perkiraan pasar sebesar 2,9%, yang menunjukkan kemajuan yang terhenti
dalam mengekang inflasi.
Biaya energi naik 1% tahun-ke-tahun,
kenaikan pertama dalam enam bulan, setelah penurunan 0,5% pada Desember,
terutama karena bensin (-0,2% vs -3,4%), bahan bakar minyak (-5,3% vs
-13,1%) dan gas alam (4,9% vs 4,9%).
Selain itu, harga mobil dan
truk bekas pulih (1% vs -3,3%), biaya transportasi meningkat (8% vs
7,3%) dan turun lebih sedikit untuk kendaraan baru (-0,3% vs -0,4%). Di
sisi lain, inflasi stabil untuk makanan (2,5% vs 2,5%) dan melambat
untuk tempat tinggal (4,4% vs 4,6%).
Secara bulanan, inflasi AS
naik sebesar 0,5%, di atas 0,4% pada bulan sebelumnya dan ekspektasi
akan melambat menjadi 0,3%. Indeks untuk tempat tinggal naik 0,4%, yang
mencakup hampir 30% dari kenaikan tersebut. Sementara itu, inflasi inti
tahunan secara tak terduga naik menjadi 3,3%, dibandingkan dengan
perkiraan yang akan melambat menjadi 3,1%. Tingkat bulanan naik lebih
dari yang diharapkan menjadi 0,4%.
Harga Produsen AS
Berlanjut
pada hari Kamis (13/3/2025), terdapat rilis data indeks harga produsen
(PPI) AS periode Februari 2025. Sebelumnya, indeks harga produsen (PPI)
AS, yang mengukur apa yang diperoleh produsen untuk barang dan jasa
mereka, meningkat sebesar 0,4% yang disesuaikan secara musiman pada
bulan tersebut, dibandingkan dengan estimasi Dow Jones sebesar 0,3%,
Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan.
Tidak termasuk makanan dan energi, PPI inti naik 0,3%, sesuai dengan perkiraan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
research@cnbcindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar