PT. Equityworld Futures Manado - Harga emas kembali melandai dan menjadi level terendah dalam satu minggu. Penurunan harga emas merupakan aksi taking profit sementara di tengah penantian data pekerja Amerika Serikat (AS). Efek tersebut menyebabkan harga emas di pasar global harus meninggalkan level psikologis US$2.500 per troy ons.
Pada perdagangan Senin (2/9/2024) harga emas di pasar spot ditutup
melemah 0,15%% di level US$2.499,29 per troy ons. Penutupan tersebut
menjadi level psikologis baru emas setelah meninggalkan level US$2.500
yang bertahan dalam sepekan kemarin. Ini adalah kali pertama emas
terlempar dari level US$ 2.500 sejak 22 Agustus 2024 atau dalam 6 hari
terakhir.
Harga emas juga sudah ambruk dua hari beruntun dengan pelemahan mencapai 0,9%.
Sementara, hingga pukul 06.13 WIB Selasa (3/9/2024), harga emas di pasar spot bergerak melemah 0,05% ke posisi US$ 2.497,98 per troy ons.
Pada perdagangan Senin, harga emas anjlok ke level terendah lebih dari seminggu karena dolar AS menguat, sementara fokus pasar beralih ke serangkaian data ekonomi yang akan dirilis pada minggu ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai sejauh mana penurunan suku bunga pada pertemuan The Federal Reserve (The Fed) bulan September.
"Untuk bergerak lebih tinggi dari sini, kita perlu memiliki kejelasan
lebih lanjut apakah akan ada penurunan suku bunga sebesar 25 (bps) atau
50 (bps), dan dengan dorongan dari data ketenagakerjaan, kita mungkin
mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai hal itu," ujar analis UBS
Giovanni Staunovo, kepada Reuters.
Keraguan investor
membuat dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil US Treasury naik.
Indeks dolar AS menguat ke 101,698 pada perdagangan kemarin atau posisi
tertinggi sejak 19 Agustus 2024. Menguatnya indeks dolar mencerminkan
banyaknya permintaan mata uang Greenback sehingga mata uang lain bisa
tertekan.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun merangkak ke 3,91%. Ini adalah posisi tertinggi sejak 9 Agustus 2024. Kenaikan imbal hasil US Treasury bisa kembali menarik investor ke AS sehingga dana asing yang ada di Indonesia bisa balik ke AS.
Penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury berdampak negatif ke emas. Pembelian emas dikonversi ke dolar sehingga kenaikan dolar AS membuat emas menjadi makin mahal untuk dibeli sehingga mengurangi pembelian.
Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.
Data ekonomi AS yang tertunda pada minggu ini mencakup survei ISM, lowongan pekerjaan JOLTS, ketenagakerjaan ADP, dan laporan penggajian nonpertanian.
Pasar secara umum memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuannya tanggal 17-18 September, yang pertama dalam siklus kebijakan ini.
Menurut alat CME FedWatch, investor sekarang melihat peluang 69% untuk pemangkasan 25 basis poin dan peluang 31% untuk pemangkasan 50 bp pada bulan September. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk menyimpan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
"Dengan musim laporan keuangan yang sebagian besar telah selesai dan pemangkasan suku bunga The Fed pada tanggal 18 September hampir pasti, investor tampaknya puas untuk tetap bertahan dalam posisi beli emas meskipun ada beberapa penguatan baru-baru ini pada suku bunga jangka pendek dan dolar AS," menurut catatan Mike Ingram, analis pasar di Kinesis Money.
Risiko geopolitik tingkat tinggi dan diversifikasi portofolio tetap menjadi dukungan tambahan bagi pergerakan harga emas. Adapun, dolar terbang mendekati level tertinggi dua minggu yang dicapai di awal sesi hari Senin di level 101,79, membuat emas batangan lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
CNBC Indonesia Research
research@cncbindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar