Minggu, 04 Agustus 2024

Dunia Panik, Harga Emas Ikut Bikin Cemas

 PT. Equityworld Futures Manado - Harga emas global tampak mulai terkoreksi seiring prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) meningkat.

Melansir data Refinitiv, harga emas global (XAU) pada akhir pekan lalu, Jumat (2/8/2024) berakhir di posisi US$ 2.443,29 per troy ons, menyusut 0,09% dalam sehari. Meskipun begitu, dalam sepekan masih meningkat 2,42%.

 Beralih pada pergerakan pagi ini, Senin (5/8/2024) hingga pukul 07.06 WIB, harga emas global mulai terkoreksi 0,34% menuju US$ 2.434,45 per troy ons.

 

Harga emas yang mulai koreksi pada pagi ini tampaknya mulai merespon dari prospek kepastian pemangkasan suku bunga the Fed yang semakin dekat setelah rilis data pasar tenaga kerja akhir pekan lalu yang melambat tajam.

Sebagaimana diketahui, pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed Juli 2024, bank sentral AS ini telah memutuskan untuk kembali menahan suku bunganya di level 5,25-5,50%.

Berbeda dengan rapat FOMC sebelumnya, The Fed pada rapat kali ini juga dinilai lebih jelas soal pemangkasan suku bunga mulai September mendatang. Dalam pernyataannya, The Fed menjelaskan jika inflasi kini sudah mengarah kepada target sasaran mereka di kisaran 2%.

Namun, pasar kembali mendapat ketidakpastian sehari setelah pengumuman suku bunga. Data pasar tenaga kerja mengalami perlambatan tajam. Dimulai dari klaim pengangguran naik signifikan ke 249.000, melampaui ekspektasi yang proyeksi hanya naik 1000 ke 236.000 klaim.

Sehari kemudian, kondisi pasar tenaga kerja yang melambat semakin dikonfirmasi dengan data pekerjaan tercatat di luar pertanian turun tajam ke 114.000, jauh dari estimasi pasar yang proyeksi turun dari 179.000 ke 175.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran AS pada Juli 2024 juga mengikuti dengan adanya kenaikan ke 4,3% dari sebelumnya 4,1%.

Kondisi perlambatan tenaga kerja terjadi di tengah data manufaktur yang lemah. PMI Manufaktur AS menurut data ISM, selama empat bulan terakhir terus turun dan berada di zona kontraksi.

Hal ini membawa kesimpulan pelaku pasar bahwa pemangkasan suku bunga semakin diperlukan guna memberikan kelonggaran likuiditas di pasar. Proyeksi CME FedWatch Tool untuk peluang pemangkasan suku bunga sudah semakin dominan di 69,5%.

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar